dina's storylineʕ•ᴥ•ʔ: [FANFICTION] The Journey

#FANFIksi Refresh Author Stuff buddies

[FANFICTION] The Journey



Title: The Journey
Genre: Fantasy, Romance
Author: silvy renita melati/ @silvyrenita aka silpong
Repost: Faradina Fazira/ @dina_fazira
Inspiration: Beauty and the beast and Beastly
Cast:
-Cher Llyod as Bethanie Turner
-Justin Drew Bieber as Justin Drew Archuleta
-Ariana Grande as Naomi Carson
Note story: This just re-post credit to author.and this justin bieber fanfiction.
 Diwajibkan memberi comment/feedbalik jika sudah membaca ini.pembaca gelap aka siders aka silent riders bertaubatlah engkau.enjoy read it.xoxo
click readmore!


“Maaf tuan. Tapi ada seorang gadis yang memasuki kastil”


Aku tidak mengerti apa yang mereka semua pikirkan. Aku harusnya senang karena lusa kami akan berangkat ke Miami. Menghabiskan liburan musim panas sekolah kami di sana. Biasa saja bukan? Miami. Aku dan keluargaku bahkan kadang berlibur kesana saat musim panas. Maksudku, ini masih di benua yang sama. Aku bahkan lebih memilih untuk pergi ke Benua Asia ketimbang Amerika. Kau tahu, aku orang Amerika. Aku hanya ingin mencari sesuatu yang baru, kebudayaan yang belum pernah aku lihat sebelumnya di Amerika. Tapi sayangnya, ibu juga ayahku tidak memperbolehkanku pergi ke Benua Asia selama beberapa hari. Seperti misalnya aku ingin mengunjungi Jepang. Dan.. Indonesia. Aku sering mendengar nama – nama Negara itu. Kau pasti berpikir jika aku ke Indonesia aku akan ke Bali. Salah, kalian salah jika berpikir begitu. Aku ke sana ingin ke Lombok. Aku mempunyai salah satu teman yang berasal dari Indonesia, namanya Sarah. Dia bilang, pantai kuta sudah kotor dan dia menyarankanku jika ingin ke Indonesia. Kunjungi Lombok, karena pantai – pantai di Lombok masih jarang tersentuh wisatawan asing.

“Ha!! Kau melamunkan, apa?” aku tersentak saat mendengar suara cempreng di belakangku. Dia Jessica. Sahabatku. Aku menoleh kearahnya sambil melotot garang. Dia hanya terkekeh geli sambil duduk di sampingku. Aku sedang berada di kafetaria. Ini sedang jam makan siang.

“Tidak. Hanya memikirkan liburan membosankan kita di Miami.” Ujarku sambil mengedikkan bahuku tidak peduli. Dia yang mendengarnya justru terbahak sambil menyemangatiku dengan gaya khas cheersnya. Aku memang salah satu siswi terkenal di High School ini. Aku kapten cheers yang digilai banyak laki – laki. Sejujurnya aku tidak ingin menjadi anak terkenal, aku ingin menjadi anak – anak lainnya yang biasa.

“C’mon Beth, that’s not bad at all” entahlah. Mendengar omongannya justru aku makin muak memikirkan musim panasku yang mungkin akan sangat – sangat buruk. Aku mendengarnya mendesah pasrah. Dia tahu jika kondisi moodku sedang buruk hari ini. Ini semua karena pria brengsek itu. Will menyelingkuhiku. Iya, dia menyelingkuhiku. Kapten basket sialan itu. Lihat saja, nanti aku akan mendapatkan yang lebih baik dari dia. Kemarin aku melihatnya sendiri tengah berciuman panas dengan Sherry. Juniorku yang mendaftar menjadi anggota cheers, namun kau tahu. Aku orang terkenal dan bisa mendapatkan apa yang kuinginkan. Saat aku mendengar namanya menjadi kandidat aku langsung menentangnya. Menolaknya untuk menjadi anggota cheers. Namun, itulah keuntungannya kau menjadi orang terkenal, kau bisa menendang siapapun yang tidak kau inginkan.

“Baby. Maafkan aku, kemarin Sherry yang menciumku duluan” aku langsung menampar pipinya hingga terceplak tangan di sana. Tanganku terceplak di sana. Biar dia rasakan sedikit dari rasa sakit yang kuterima. Dan saat itu juga, suasana kafetaria hening. Banyak wanita – wanita yang mengejeknya, bagaimana seorang kapten basket yang terkenal sebagai player itu aku tampar di depan banyak orang. Mempermalukannya.

“Untuk apa kau muncul lagi? Enyalah. Jangan pernah muncul di hadapanku lagi” sengalku sambil berdiri dan meninggalkan kafetaria yang masih ramai.

“Kau akan menyesal telah menamparku, Beth”

“Oh, ya? That’s great” ejekku sambil terus berjalan tidak mempedulikan makian sialannya itu.


****


Author’s View


            Mereka semua sudah tiba di Miami. Di mana mereka akan menghabiskan tiga hari liburan musim panas. Sedari tadi, Bethanie hanya berjalan berdua dengan Jessica sambil menggeret kopor mereka masing – masing. Tangan Beth bergerak mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Sayangnya dia tidak bisa. Karena ibunya yang di seberang sana tidak kunjung mengangkat teleponnya.

            “Ibuku susah sekali dihubungi, Jess” desahnya kecewa. Kemudian mereka segera menuju ke kamar hotelnya, mereka mendapatkan kamar yang sama. Setelah mereka sampai di sana, Jessica dan Bethanie segera merebahkan tubuhnya di atas kasur yang berukuran sedang. “Apa planningmu hari ini?” tanyanya sambil melirik ke ranjang Jessica. Gadis itu Nampak berpikir sebentar sebelum akhirnya menjawab.

            “Berada di pantai sepanjang hari, tentu saja. Aku ingin tanning” dia menaik turunkan alisnya dan betapa bahagianya dia saat sampai di Vegas dengan keadaan kulit cokelat eksotisnya yang akan dipuja oleh pria – pria. Sejujurnya, tanpa Jessica melakukan tanning pun, banyak pria yang mengantri untuknya. Dia mempunyai tubuh sempurna tanpa cacat ditambah rambut pirang pasirnya yang membuat orang – orang menoleh kearahnya. Berbeda dengan Bethanie yang mempunyai postur tubuh mungil namun berisi serta rambutnya yang berwarna cokelat. “Kau?”

            “Mungkin hanya berjalan – jalan di pantai. Tidak berenang tentu saja” balas Beth sambil berjalan melihat pemandangan dari balkon kamar hotelnya yang menghadap langsung ke arah pantai.



            “Tuan, kita harus menghilangkan kutukan ini sebelum musim dingin berakhir, sebelum musim gugur muncul” suara seorang laki – laki seolah – olah memantul di dinding kusam sebuah kastil besar yang kelihatan menyeramkan itu.

            “Bagaimana caranya? Mereka semua takut denganku. Dengan wajahku” suara baritone itu ikut memantul di dinding – dinding tersebut.

            “Tuan Justin. Waktunya untuk makan siang” kali ini bukan suara pria. Tapi ini suara Siena. Salah satu pelayan di kastil ini, dia sudah berada di sini sejak empat bulan lalu. Saat Justin Drew Archuleta mendapatkan kutukan itu. Kutukan dengan wajah menyeramkan. Wajahnya bukan wajah berbulu seperti di kartun keluaran Disney itu. Dia bahkan diasingkan di tempat yang tidak akan pernah mungkin terjaman oleh manusia. Rasanya benar – benar mustahil. Ibu dan ayahnya yang mengirimkannya ke sini, karena malu anaknya mempunyai wajah yang buruk rupa karena kutukan.

            “Aku akan segera kesana Kiena. Dan kalian bisa meninggalkanku sendiri” ujarnya dengan suara yang nyaris tidak terdengar. Wajahnya ditundukkan, malu. Bagaimana wajahnya benar – benar buruk. Dan karena keadaannya seperti ini, keluarga Carson membatalkan pertunangan anaknya Naomi Carson dengan Justin, padahal Justin sudah mencintai wanita itu. Dan karena wajahnya yang seperti ini, gadis itu juga merasa jijik dengannya. “She love me not to be Who I am, but what I look, not who I am” desis Justin merasa kesal sambil membanting Gucci yang berada di depannya. “AKU BENCI DIRIKU SENDIRI” teriaknya.

            “Tuan, Justin”

            “DON’T DISTURBING ME!!”

            “Maaf tuan. Tapi ada seorang gadis yang memasuki kastil” mendengar omongan dari salah pengawal di kastilnya. Dia merasa tertarik. Siapa yang bisa tersesat hingga ke kastil menyeramkannya ini.


___________________


Bethanie’s View


Aku sekarang sedang bersiap – siap dengan setelah hot pants, cropped tee, sandal, dan topi besar yang baru saja aku pinjam dari Jessica. Aku melihatnya sangat bersemangat untuk berjemur di pantai siang ini. Miami memang selalu panas. Tapi ini surganya bagi para orang – orang yang akan berjemur di pantai. Sekarang Jessica sudah berada di pantai dengan kekasihnya tentu saja. Aku segera keluar dari kamar hotelku dan berjalan menuju lift untuk turun ke lobby. Dan aku menyumpah serapahi diriku sendiri saat mengetahui aku satu lift dengan Sherry. Saat aku masuk ke dalamnya hanya ada dia sendiri, aku berusaha untuk tidak menampar wajahnya saat ini juga karena beraninya bermain di belakangku dengan Will. Aku sempat meliriknya dan tubuhnya menegang. Aku benar – benar tidak peduli dan menhentak – hentakkan kakiku di kubikel lift ini.

            “Bethanie, I’m so—“

            “Jangan dilanjutkan. Semuanya sudah selesai, kau bersama pemuda brengsek itu dan aku sendiri” balasku dingin. Apakah aku terlihat kejam? Kalau begitu bagus. Dia sempat berdeham.

            “Kau bisa ambil Will dariku, aku tidak masalah” ha? Apa yang baru dia katakan? Aku tidak ambil barang bekas.

            “Excuse me?”

            “Ya. Kau bisa mengambil Will kembali jika kau mau”

            “Pria brengsek itu milikmu. Kau boleh mengambilnya” balasku sambil keluar dari kubikel itu saat bunyi ‘ding’ terdengar. Aku masih mendengar suaranya samar – samar, dia mencoba meminta maaf denganku. Jujur saja, aku tidak pernah keberatan jika ada seseorang yang mengambil pacarku. Jujur, aku tidak mencintai mereka dengan tulus. Aku bahkan tidak menangis karena seorang pria meninggalkanku. Contohnya saat Will berselingkuh dengan Sherry. Bilang bahwa aku naïf, aku memang masih terpikirkan kejadian itu tapi lihat aku sekarang? Aku sama sekali tidak sedih saat dia meninggalkanku. Cinta itu hanya omong kosong. Cinta itu hanya membuat kalian lemah. Aku sudah sampai di pantai sekarang dan melambaikan tanganku saat melihat Jessica tengah berjemur ditemani Nick.

            “Hey, there” acapku sambil tersenyum kearah mereka berdua.

            “Kau harus mencoba berjemur, Beth. Cuaca di Miami sangat bagus!” teriak Nick sambil meminum air kelapanya.
            “No, Thanks” teriakku kembali sambil menyusuri garis pantai. Pantai ini sangat luas, aku butuh tempat yang sepi. Jauh dari keramaian dari sini. Di sini terlalu ramai, mungkin aku bisa mencari bagian dari pantai ini yang sepi. aku butuh menikmati tempat ini tanpa suara keramaian atau suara orang – orang yang sedang party. Hingga akhirnya aku sampai di sini. Aku baru tahu ternyata di pantai ini masih memiliki hutan. Tunggu hutan? Dan hutan ini bukanlah hutan bakau. Saat aku melihat ke belakang. Aku tidak lagi  melihat orang – orang yang ramai. Hanya ada aku di sini. Bukankah itu bagus? Aku menyeringai mengingat tidak akan ada satu orangpun yang menggangguku. WOOO!! Ini baru namanya liburan. Tempat ini juga rindang, jadi aku bisa duduk – duduk tanpa harus terkena sinar matahari yang begitu terik. Aku menjatuhkan bokongku di atas pasir putih yang membuatku nyaman. Pantai Miami lebih indah jika dilihat dari sini. Aku mencoba mengedarkan pandanganku lagi ke pantai di bagian yang menurutku tidak tersentuh ini. Dan memang tidak ada siapa – siapa kecuali aku.

            “I’M FREE BITCH!!!” teriakku dengan gemas. Dan entah bagaimana caranya, aku jadi menyukai tempat ini. Aku butuh waktu sendiri bukan karena aku baru saja putus dengan Will, tetapi karena ibu dan ayahku yang akan bercerai. Mereka akan bercerai bulan depan. Mereka berdua egois, mereka menganggapku seolah aku tidak ada. Harusnya mereka menanyakan pendapatku. Ya, seharusnya mereka memang menanyakannya dulu. Semilir angin musim panas seolah membelai wajahku. Deburan ombak seolah membawa ke duniaku lagi. Bahwa ini nyata, mereka akan bercerai. Aku merebahkan tubuhku di bawah pohon kelapa yang berada di belakangku. Memejamkan mataku. Mencoba menikmati ini semua dengan tenang, ini seperti terapi. Dan entah mengapa aku penasaran dengan apa yang ada di dalam hutan ini, entahlah. Setahuku jika di pantai biasanya hanya hutan bakau. Tapi ini hutan sungguhan. Aku bangun dari posisiku dan berjalan masuk ke dalam hutan ini. Awalnya aku ragu, tapi mau bagaimana lagi. Aku penasaran. Jika aku sudah mengetahui isinya aku berjanji akan keluar dari hutan ini. Baru saja aku masuk ke dalamnya hidungku menghirup udara yang benar – benar bersih. Bersih dari polusi, banyak pohon – pohon dengan batang yang sangat besar di sini. Dengan dedaunan yang rimbun tentu saja.

            Dan aku bisa menemukan bunga mawar merah liar di sini. Aku ingin mengambilnya, namun setelah melihat banyak duri di batangnya aku mengurungkan niatku dan kembali masuk ke dalam bagian hutan ini yang belum tersentuh. Aku bahkan melihat tanaman anggrek. Tunggu, tunggu. Aku pernah melihat anggrek berwarna hitam ini sebelumnya di internet. Astaga! Ini anggrek bulan. Anggrek yang jumlahnya mulai menyusut setiap tahunnya. Saat aku tengah melanjutkan perjalananku. Kakiku tersandung akar besar salah satu dari pohon di sini. Sial, ini sakit. Aku melihat luka lecet di lututku yang mengeluarkan sedikit darah. Setidaknya ini berhasil mengoyak kulitku. Aku hanya mengusapkan tisu pada permukaan kulitku yang baru saja terluka itu. Aku melihat ke atas dan menemukan bahwa matahari tidak dapat menembus rimbunnya dedaunan ini. Sehingga udara di sini lembab dan pencahayaannya kurang. Aku segera menepuk dahiku, sial. Bagaimana caranya aku akan keluar dari sini? Ya Tuhan. Aku tidak ingin terdampar. Aku melihat arloji di tangan kiriku dan melihat baru pukul 12.00. Oh, aku masih ingin berlama – lama di sini. Kakiku terus melangkah menyusuri hutan yang aku tidak mengerti di mana ujungnya ini. Tiba – tiba aku mendengar suara gemerisik dari dedaunan, bodoh. Ini hutan, bagaimana jika aku menemukan harimau atau singa di sini? Aku bukan tarzan yang dapat menjinakkan binatang buas. Tiba – tiba aku panik. Dan melihat ke sekitarku. Aku harap aku segera menemukan jalan keluar dari sini.

            Dan aku melihat dua ekor babi hutan di balik semak – semak. Tidak – tidak, aku pasti salah melihat. Aku segera lari, bagaimana bisa aku menemukan babi hutan di sini? Hutan gila. Ya Tuhan, aku yakin tidak akan ada eksistensi manusia di sini, hanya aku di sini. Hanya aku satu – satunya manusia di sini. Aku melihat ke belakang dan aku masih menemui dua babi hutan itu mengejarku dengan lari yang cepat. Tuhan, tolong aku. Aku tidak mau jadi korban babi bodoh ini. Hingga akhirnya aku terjatuh lagi, astaga. Tamatlah riwayatku saat ini, kedua babi itu berhenti. Dan mulai berjalan mendekatiku.
            “AKU TIDAK MEMPUNYAI MAKANAN UNTUK KALIAN, BABI SIALAN” teriakku saat tanganku meraba – raba aku menemukan dua batu besar. Segera saja aku melemparkan batu itu ke pada kedua babi itu. Dan ya, mereka pergi. Kalau tahu seperti itu. Langsung saja aku lemparkan batunya. “Kenapa tidak dari tadi saja, aku lemparkan batu kepada kedua babi bodoh itu” decakku sebal. Dan lihatlah aku sekarang. Tersesat di dalam hutan aneh, tubuh penuh keringat, mempunyai beberapa luka. Great. Aku berjalan tertatih – tatih sambil memperhatikan aku di mana sekarang dan perhatianku sekarang tertuju pada sebuah bangunan. Tunggu, ada bangunan di sini? Sebuah kastil besar pula, aku harus bersyukur karena aku mendapatkan sebuah kastil menyeramkan di sini atau aku harus berduka. Bagaimana jika kastil itu diisi oleh perompak kejam seperti Jack Sparrow? Okay, aku harus mencoba masuk ke sana. Gerbang besar menghadangku. Gerbang ini besar juga tinggi. Dan aku masih belum menemukan eksistensi manusia di sini. Segera saja ku dorong gerbang tersebut dan terus berjalan masuk hingga ke pintu utama.

            “Hello!! Ada seseorang di dalam?” teriakku. Karena tidak ada yang menjawab aku segera membuka pintu utamanya yang ternyata tidak dikunci. Bodohnya mereka. Baru saja aku ingin melangkah masuk, ada seseorang yang menarik tanganku hingga akhirnya aku menjerit cukup kencang.

            “ADA PENYUSUP!!!” teriak orang yang tadi menarik tanganku. Astaga, mendadak bulu kudukku berdiri. Bagaimana jika aku ditawan? No, no, no.

            “Lepaskan aku, bodoh!!” gertakku sambil melirik tajam pada pria paruh baya berambut hitam ini. Astaga, dia bisa melukai tanganku karena cengkramannya yang terlalu keras. “You want to hurt me!” teriakku sambil mencoba melepaskan cengkraman tangannya.

            “DIAM!” bentaknya yang membuatku mengatupkan bibirku rapat – rapat. Setelah itu aku melihat seseorang dengan jubah bergerak mendekatiku. Ada seorang wanita paruh baya juga pria paruh baya yang kira – kira umurnya empat puluh tahunan mendekat kearahku. Aku seperti tawanan di sini. Aku ingin melihat seorang dengan jubah besarnya itu, namun wajahnya tertutup oleh kupluk yang ada di jubah itu dia juga menunduk.

            “Kau sudah masuk ke dalam kastilku dan kau tidak akan bisa keluar lagi” ujar pria misterius di balik jubahnya itu. Saat dia membuka jubahnya dan memperlihatkan wajahnya padaku aku nyaris saja menjerit. Wajahnya buruk rupa. Namun, entah kenapa aku melihat sorot kesakitan di dalam mata hazelnya itu. Dan anehnya aku tidak takut dengan wajahnya yang lumayan menyeramkan itu.
justin

“Karena masih ada yang lebih menyeramkan darimu”

Author’s View


            *flashback on*

Malam itu, saat keluarga Carson dan keluarga Archuleta tengah menjamu makan malam. Mereka semua tampak bahagia. Mereka tengah membicarakan perjodohan anak mereka. Justin dan Naomi saling mencintai saat itu. Suhu dingin di luar rumah keluarga Archuleta nampaknya tidak dapat merangsak masuk ke dalam rumah mereka karena pemanas ruangan yang memadai juga suasana kehangatan yang tercipta di sana.
            “Naomi” suara Justin seolah memecahkan keheningan di antara mereka berdua.
            “Hmm”
            “Kau berjanji tidak akan meninggalkanku, kan?”
            “Tentu saja tidak. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu” mendengar itu dada Justin seperti dialiri rasa hangat yang membuatnya menyunggingkan senyum. Dan dengan tiba – tiba suara ketukan pintu terdengar.
            “Justin, tolong buka pintunya” perintah ayahnya. Mengindahkan perintah ayahnya dia bergerak menuju pintu utama rumahnya dan saat dia memutar kenop pintunya muncul seorang wanita paruh baya. Justin mengernyit bingung bertanya – Tanya siapa wanita yang berada di hadapannya sekarang. “Justin, siapa yang datang?” Tanya ayahnya dari dalam.
            “Aku tidak tahu, mungkin kau mengenalnya” balas Justin yang masih mematung di ambang pintu dengan tatapan menyelidik wanita di depannya. Dan beberapa saat kemudian ayah, ibu, dan kedua orang tua Naomi keluar. Sementara Naomi hanya di dalam sambil menikmati cokelat panasnya. Dan saat Arnold dan Camryn—kedua orang tua Justin— terkejut melihat wanita yang mendatangi rumahnya itu.
            “Kau—kau”
            “Ya. Aku Serena. Surprising? Not really” ujar wanita itu dengan suara mengejek yang sangat jelas. “Kau mempunyai putera yang tampan, Arnold” sekali lagi, tatapan menyelidik diberikan Serena pada Justin.
            “Apa yang kau inginkan?” Tanya Camryn dengan wajah yang tidak terdefinisi itu.
            “Tentu saja merebut kebahagiaan kalian” balas Serena sambil tertawa. Tawa yang membuat Justin merinding. Aura menyeramkan sangat kentara pada diri Serena. “Arnold, kau masih ingat dengan kejadian Sembilan belas tahun lalu? saat orangtua kau membatalkan pernikahan kita karena mengetahui aku seorang penyihir. Kau masih mengingatnya?” apa – apaan ini? Justin benar – benar tidak mengerti apa yang terjadi di sini sekarang.
            “Lebih kau pergi dari sini sekarang” gertak Arnold tidak sabaran.
            “Tidak sebelum aku menghancurkan kebahagiaan kalian” mendengar itu, lutut Justin rasanya berubah seperti jelly. “I curse you, Justin Drew Archuleta to be frightening human until spring season and until you found the girl who kissed and loved you to be who you are” dan setelah itu, kepala Justin seolah dihantam ribuan ton besi. Hingga tangannya bergerak untuk memegangi kepalanya yang semakin lama semakin pusing. Tubuhnya seperti diputar – putar tiga ratus enam puluh derajat tanpa henti. Hingga akhirnya dia menyandarkan tubuhnya pada tembok. Saat semua rasa pusingnya telah berakhir dan dia segera berlari ke dalam kamarnya untuk melihat gambaran dirinya saat ini. “I have to go!!” setelah itu Serena menghilang secara tiba – tiba. Dan semua orang yang berada di dalam rumah itu segera masuk ke dalam kamar Justin.
            “Justin, you okay?” suara ibunya seolah membuat Justin tersadar dan menutupi wajahnya dengan selimut.
            “Kalian semua tinggalkan aku pergi!! Sekarang!” teriaknya. Mendengar itu, Naomi justru maju beberapa langkah untuk melihat keadaan Justin sekarang. “I SAID GO!” bentaknya lagi. Namun, gertakkan Justin tidak membuat langkah gadis itu mundur.
            “Justin, tunjukkan wajahmu padaku. Its gonna be okay” Naomi meyakinkan Justin. Dan saat itu juga, Justin menunjukkan wajahnya pada Naomi. Dan pada saat itu juga gadis itu berteriak cukup keras, kemudian dia dengan perlahan mundur ke belakang. “Your so frightening. I’m just done Justin, I’m done. We’re broke up now” setelah itu Naomi berlari meninggalkan Justin.
            “Erm, maaf Arnold. Sepertinya kita harus membatalkan rencana pertunangan ini, melihat kondisi putramu” dan saat ayah Naomi mengatakan itu. Dunia Justin benar – benar hancur porak – poranda. Dan saat itu juga dia mengetahui bahwa gadis yang dicintainya tidak benar – benar mencintainya.

*flashback off*


            “Aku tidak bisa keluar dari sini? Bitch please, aku berada di Miami hanya tiga hari dan kau menawanku?” decak Beth sebal sambil menantang pria menyeramkan yang berada di depannya.
            “Siapa kau yang dengan beraninya menantangku?” Tanya pria itu sambil memperhatikan Beth dari ujung kaki hingga kepala.
            “I’M BETHANIE TURNER, memang kenapa jika aku berani? Aku wanita yang paling ditakuti di sekolahku, untuk apa aku takut padamu, ha?” tantangnya lagi. Dan saat itu dia meringis saat dia bergerak untuk menghentakkan kakinya kesal. “Luka sialan” makinya. Dan saat itu juga Justin melihat ada luka baretan yang ada di lutut Beth.
            “Aku tidak peduli siapa kau. Yang jelas, karena kau sudah masuk ke dalam kastilku kau tidak dapat keluar, Kiena tunjukkan kamarnya dan berikan dia pakaian yang layak” perintahnya. Saat itu juga Bethanie melihat bahwa Kiena memakai gaun seperti keluarga kerajaan. Geez. Dia tengah terdampar di tengah orang – orang kuno.
            “Apa?! Pakaian yang layak? Ini sudah layak, bodoh” dan saat itu juga Justin berbalik dan memberinya tatapan garang. Hingga akhirnya dia mengatupkan rahangnya rapat – rapat.
            “Kenapa orang – orang di sini, galak – galak?” desisnya dengan suara kecil.
            “Mari, nona. Ikut aku” mau tidak mau Beth harus mengikuti wanita yang tadi di panggil Kiena oleh Justin. Mereka berdua berhenti di depan sebuah kamar yang di desain khas kerajaan – kerajaan. Dia bahkan harus mencubit pipinya, dia sedang bermimpi atau tidak. “Pakaianmu ada di sini, nona”
            “Panggil aku Beth. Kiena, aku boleh bertanya sesuatu?” Tanya Beth sambil menatap bingung kearah jendela. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat butiran – butiran salju turun ke tanah. Dia mengerjap – ngerjapkan matanya, mengerti sikap Beth, akhirnya Kiena berdeham.
            “Okay, Beth. Apa yang ingin kau tanyakan padaku?” Beth kemudian tersadar dan akhirnya kembali menghadap kearah Kiena.
            “Aku berada di dunia nyata, kan dan astaga. Apa aku gila? Aku melihat butiran salju turun dan sekarang sedang musim panas” semua ini tidak bisa dipikir secara logis.
            “Kau berada di dunia nyata. Ya, kau tahu? Kastil ini mendapat kutukan, kami ditugaskan disini untuk menjaga tuan Justin sampai kutukannya hilang. Musim di kastil ini dibuat oleh Serena sama dengan di benua Australia”
            “You kidding me
            “Aku tidak berbohong padamu” balas Kiena.
            “Oh, god. Dan siapa Se—“
            “Kiena, kau bisa keluar sebentar?” Bethanie kenal suara itu. Itu suara pria menyeramkan tadi. Hingga akhirnya Kiena pergi dari hadapan mereka berdua.
            “Ingin apa kau kesini? Ingin menjadikanku budakmu, begitu?” sengal Beth. Entahlah, dia masih merasa kesal dengan pria itu. Bayangkan saja dia terjebak di kastil ini karena pria itu, Justin. “Btw, siapa namamu?” pada akhirnya gadis itu menyerah. Mau tidak mau dia harus bersikap ramah. Entah ada perasaan dari mana yang mendorongnya untuk berbuat ramah pada orang lain.
            “Aku Justin. Harusnya kau sekarang sudah mengenakan gaun itu, bukan bajumu tidak layak pakai itu” decak Justin marah, Beth mengangkat alisnya bingung.
            “Atas dasar apa kau bilang bahwa pakaianku ini tidak layak pakai?” tanyanya menyelidik.
            “Tentu saja itu tidak laya pakai. Kotor, kumal, kekurangan bahan”
            “Kau sangat kuno rupanya. Kau tahu? Saat aku melihat orang – orang di sini aku seperti tengah terjebak di peradaban kuno. Orang – orang memakai gaun dan bedebahlah itu. Itu tidak efisien, aku juga tidak biasa menggunakan gaun panjang seperti itu” protesnya. “Kau bisa keluar?” Justin memelototkan matanya tidak percaya. Dia diusir oleh gadis tengil ini?
            “Kau mengusirku?”
            “Aku baru saja melakukannya dan kau masih di sini. Aku butuh waktu sendiri menghadapi kegilaan yang terjadi di sini, belum lagi kegilaan yang ada di luar sana” pada akhirnya Beth menelungkupkan tubuhnya di atas ranjang dan mengubur wajahnya di bantal.
            “Apa maksudmu dengan kegilaan di luar sana?” gadis itu menggeram kesal, bagaimana pria ini masih mengganggunya?
            “Justin. Semua orang punya masalah mereka masing – masing, termasuk aku” mendengar itu, pikiran Justin melayang pada masalahnya sendiri. Bagaimana dia bisa menjadi manusia normal lagi, layaknya Bethanie. Dan setelah itu Justin keluar dari kamar gadis itu. Dan entah kenapa, Beth rasanya ingin menangis sekarang.


****


            Malam itu, saat murid – murid Hanley Senior High School tengah berkumpul untuk makan malam, seorang gadis di dalam kamar hotelnya tengah cemas menunggu sahabatnya yang tidak kunjung kembali sejak tadi. Tadinya ia pikir Beth sudah kembali ke kamar hotelnya. Dan pada kenyataannya saat sore dia masuk ke kamar hotelnya kembali, Beth tidak kunjung datang. Bagaimana jika sahabatnya di culik? Atau di bunuh dan dimutilasi? Segera saja dia berlari menuju kamar salah satu guru dan menekan bellnya. Dia benar – benar panik sekarang. Dan saat itu juga guru matematikanya keluar dari dalam kamar hotelnya.
            “Mrs. Charleston. Beth belum juga kembali ke kamar hotelnya, aku hanya takut jika dia di culik atau bahkan. Ya Tuhan” desah Jessica frustasi.
            “Tadi dia tidak bersamamu?”
            “Dia bilang dia ingin pergi menyusuri pantai dan hingga saat ini dia tidak kunjung kembali” saat itu juga semua guru berkumpul dan mendiskiskusikan hal ini. Sementara Jessica duduk merosot ke lantai hotel yang dingin. Saat Nick dan teman – temannya melewatinya pria itu langsung memeluk kekasihnya yang sedang menangis.
            “Shhh. Kau kenapa? Ada yang menyakitimu?” gadis itu masih menangis sesegukan di dada Nick.
            “Beth tidak kunjung kembali ke kamar sejak tadi sore, Nick. Aku hanya takut dia di culik” tangan pria itu bergerak untuk mengelus punggung Jessica.
            “It’s gonna be okay. Dia pasti akan segera kembali” ujar Nick dengan manis. Mendengar bahwa Beth menghilang, Will yang masih berada di belakang mereka tertawa penuh ejekan.
            “Itu balasan karena dia telah menamparku kemarin”
            “SHUT YOUR FUCKING MOUTH UP, ASSHOLES!!” teriak gadis itu.
            “Will, lebih baik kau menyingkir dulu” suara Nick menengahi ketegangan di antara kekasihnya dan sahabatnya itu. Jessica kembali memikirkan Beth yang sekarang entah berada di mana.


Bethanie’s View


            Aku tengah berada dalam kamarku dan menatap kearah jendela kamar ini yang begitu besar. Tanganku menopang kepalaku dan menatap malas – malasan pada langit malam. Ini memang benar – benar liburan terburukku sepanjang masa. Aku tidak bisa kemana – mana, apakah Jessica tengah mencariku sekarang? Apakah ibu dan ayahku khawatir sekarang? Apakah mereka tahu jika aku sedang berada di tempat yang tidak dapat mereka semua jangkau? Pada akhirnya aku duduk di lantai kamarku yang dingin ini. Aku tidak peduli jika rasa dingin ini menusuk – nusuk bokongku sekarang.
            “Beth, kau di dalam?” itu suara Kiena.
            “Ya. Kau bisa masuk” balasku sambil memperhatikan kuku – kuku jariku yang kupoles kuteks warna pink. Setelah itu deritan pintu berbunyi dan ada Kiena berdiri di ambang pintu kamarku.
            “Waktunya makan malam” demi Tuhan. Aku bahkan sudah tidak peduli dengan makanan. Aku sama sekali tidak lapar, aku tidak ingin makanan, aku hanya ingin kembali ke hotel.
            “Bilang kepada Justin bahwa aku sama sekali tidak lapar. Percuma jika kau mencekokiku makanan, karena aku benar – benar tidak lapar” decakku sebal sambil memuntir – muntir rambut bergelombangku sekarang.
            “Beth. Justin akan sangat marah jika tahu bahwa kau tidak mau makan”
            “Persetan. Aku bilang aku tidak lapar. Kalau kau masih mencoba untuk membujukku lebih baik kau pergi sekarang, Kiena” bilang bahwa aku tidak mempunyai sopan santun, aku memang sedang tidak ingin diganggu sekarang. Saat itu juga aku melihat Kiena pergi, saat itu pula aku menghembuskan napas lega dan menekuk kedua lututku hingga aku duduk bersila sekarang. Aku bersandar pada dinding kamarku yang juga dingin kemudian aku memejamkan mataku, aku tidak tidur. Tetapi hanya mengistirahatkan otak juga mataku sebentar. Dan saat itu juga terdengar gebrakan pintu keras, tanpa membuka matapun aku sudah tau siapa pelakunya. Siapa lagi kalau bukan pria pemarah itu, Justin.
            “Aku sudah secara baik – baik mengajakmu makan malam dan kau menolaknya mentah – mentah” aku terkekeh. Masih dengan memejamkan mataku.
            “Kau perlu koreksi kata – katamu, Kiena yang mengajakku makan, bukan kau” aku mendengarnya menggeram kesal. Aku akui aku memang wanita yang cukup menyebalkan.
            “Persetan! Yang jelas kau harus makan sekarang!” paksanya. Aku mulai membuka mataku dan menatap kearahnya.
            “Aku benar – benar tidak nafsu makan, bisakah kau tidak memaksaku? Aku tidak akan pernah bisa makan dalam keadaan aku berada di tempat yang sama sekali tidak kuketahui dan satu lagi. Aku paling tidak suka dipaksa” balasku berani sambil menatap matanya hazelnya itu. Aku masih penasaran apa yang menyebabkan mata indah itu mempunyai sorot kesakitan.
            “Aku sudah menawarimu Ms. Turner” aku hanya mengangguk – anggukkan kepalaku tidak peduli. Kemudian kakinya melangkah keluar dari dalam kamarku menuju keluar. Nah, begitu lebih bagus, kan?



Justin’s View


            Aku tidak habis pikir dengan gadis itu. Berani sekali dia menantangku dan satu lagi, dia gadis yang lancang. Seperti saat ini, dia tidak mau makan malam dengan alasan tidak nafsu makan. Tadi siang, dia bahkan mengusirku untuk keluar dari kamarnya. Dan sekarang dia tidak mau makan malam. Entah mengapa, mood makan malamku sudah lenyap entah kemana akibat gadis itu. Aku segera masuk ke kamarku dan melirik pada jam, sekarang sudah jam delapan malam dan itu artinya wajahku sebentar lagi akan kembali ke wajah manusiaku. Bukan, wajah ini. Benar saja, saat aku memejamkan mata dan membukanya kembali, wajahku sudah kembali seperti biasanya. Aku memberlakukan jam malam di kastil ini. Semua orang harus berada di dalam kamarnya sebelum pukul Sembilan malam. Aku sedang berada di balkon kamarku sekarang. Menikmati bintang di malam hari. Dan kadang aku selalu bangun pukul dua dini hari untuk sekedar melihat apakah ada bintang jatuh. Aku tahu aku konyol, berharap pada bintang jatuh.
            Dan saat aku melihat bintang jatuh aku selalu berdoa agar kutukan ini dihapuskan dengan cara mendatangkan seorang gadis yang mau menerimaku apa adanya. Aku selalu berdoa seperti itu berbulan – bulan. Dan aku justru bertanya sekarang, apakah Beth orang yang dikirimkan Tuhan untuk menghapus kutukanku? Tapi jika dipikir – pikir, itu tidak masuk akal. Dia gadis yang lancang dan menyebalkan, lagi pula aku selalu memaksanya melakukan sesuatu yang sama sekali tidak dia inginkan. Dan dia juga gadis yang menyebalkan, aku tidak mungkin menyukainya apa lagi mencintainya, kedengaran mustahil. Aku beranjak untuk tidur saat ini, ini semua membuatku lelah dan takut. Aku selalu terbayang di pagi hari saat musim dingin berakhir dan aku belum bisa membuat seorang gadis jatuh cinta padaku. Baru saja aku ingin memejamkan mataku aku mendengar seseorang mengetuk pintu kamarku.
            “Justin?” tidak. Tidak mungkin wanita itu berada di sini. Untuk apa dia di sini? Dan bagaimana dia bisa berada di sini? Itu suara Naomi. Dan mendengar suara itu seperti membuka luka lama. Aku berjalan menuju pintu dan memutar kenop pintunya dan Naomi berdiri di sana sambil tersenyum, seketika amarahku muncul saat melihatnya. Mengingat kejadian di musim dingin waktu itu.
            “Untuk apa kau ke sini, hah?!” bentakku padanya. Dia mundur beberapa langkah dan menatap kearahku ketakutan.
            “Aku hanya ingin memastikan bahwa kau baik – baik saja” apa yang baru dia katakana? Aku harap telingaku tidak tuli.
            “Baik – baik saja? Kenapa kau tidak ada saat aku membutuhkanmu waktu itu? Kenapa kau tidak ada? Kau malah meninggalkanku. Dan saat itu aku tahu bahwa kau tidak mencintaiku apa adanya” aku melihat matanya berkaca – kaca. Dia harus merasakan apa yang aku rasakan. Karena dia memang pantas menerimanya.
            “Aku shocked Justin. Aku shocked!” hah, bisa saja alasannya.
            “Shocked? Kau shocked hingga empat bulan tanpa tahu bagaimana perasaanku saat kau tinggal pergi, Naomi. Kau tidak tahu!! Lebih baik kau pergi sekarang!” bentakku.
            “Tapi—“
            “Kubilang pergi!!” dan dengan tiba – tiba Bethanie datang dengan membawa segelas air. Aku melihat Naomi sempat berhenti sebentar saat melihatnya berjalan dengan meraba – raba dinding dengan bodoh. Dan saat Naomi benar – benar pergi, Beth baru bertanya. Dan menatapku dengan serius. Apa yang dia lihat?
            “Kau siapa? Dan dia siapa? Atau jangan – jangan kau dan dia penyushpftttt” aku segera menutup mulutnya dan membawanya ke dalam kamarku sambil menguncinya. “Astaga! Aku harus melaporkanmu kepada penjaga supaya kau menjadi tawanan juga” ancamnya sambil melotot.
            “Aku Justin” balasku. Dia yang sedang meneguk air mineralnya tiba – tiba dia semburkan.
            “Haha. Kau sangat lucu, mana bisa Justin menjadi kau? Wajah kalian berbeda, tapi satu yang sama sekali tidak berbeda, matamu” jawabnya sambil terkekeh – kekeh. Ya Tuhan, anak ini.
            “Jika sudah lebih dari pukul delapan malam wajahku kembali seperti wajahku dulu dan saat matahari mulai terlihat wajahku menjadi menyeramkan kembali” aku melihatnya melotot, entahlah tingkahnya benar – benar polos.
            “Wow. Itu menakjubkan. Btw, aku penasaran kenapa kau bisa mendapat kutukan itu” dia mengedikkan bahunya tidak peduli dan kembali menenggak air mineralnya hingga habis.
            “Aku dikutuk oleh Serena menjadi seperti ini karena dia mempunyai dendam dengan ayahku. Dulu ayahku dan dia sempat ingin menikah, namun di batalkan karena kakekku tahu bahwa dia seorang penyihir dan pada akhirnya ibuku menikah dengan ayahku. Dan Serena membalaskan dendamnya lewat aku, dia tahu bahwa saat itu aku dan gadis yang tadi kau lihat ingin bertunangan. Dan kau tahu? Gadis itu meninggalkanku begitu saja dan memutuskan hubungan kami” aku mendesah pasrah saat mengingat kejadian empat bulan lalu itu lagi.
            “Mungkin dia shocked” balas Beth yang membuatku tertawa sinis.
            “Tidak ada orang shocked yang baru kembali pada bulan keempat Beth, jika dia memang  benar – benar tidak ingin bertemu dengan seseorang lagi” aku melihat lekukan wajahnya. Dan perhatianku tertuju pada bibirnya. Dan saat ini aku merasa bahwa dia bukan Bethanie gadis yang kukenal beberapa jam lalu saat dia tertangkap basah sedang masuk ke dalam kastilku dan entah mengapa aku menyukai sisi dirinya yang ini. “Beth, aku ingin menanyakan sesuatu hal padamu” aku melihat dia mendongakkan wajahnya dan melihat kearahku.
            “Apa? Tanyakan saja, selagi aku baik padamu”
            “Terlalu percaya diri. Kenapa kau tidak terlihat takut saat melihat wajahku pertama kali?” aku mendengarnya tertawa.
            “Karena masih ada yang lebih menyeramkan darimu” ujarnya sambil tersenyum manis padaku. Dan saat ini juga, aku baru mengetahui bahwa dia mempunyai senyuman yang manis. Sial, apa yang kau pikirkan? “Dan aku juga mempunyai pertanyaan yang ingin aku tanyakan padamu sejak pertama kali kita bertemu tadi siang”
            “Apa? Tanyakan saja, selagi aku baik padamu” ujarku meniru gaya bicaranya barusan yang membuatnya memutar bola mata.
            “Dasar peniru. Aku ingin bertanya, kenapa dalam sorot matamu aku melihat sorot…. Kesakitan?” dan saat itu pula, aku bingung harus menjawab apa. 
“Selamatkan dia dan bawa dia pergi”

Author’s View


            Justin seolah membisu mendengar pernyataan gadis itu. Apa yang harus dia lakukan? Menceritakannya pada gadis ini? Tentu saja dia tidak bisa menceritakan apa yang ada di balik sorot kesakitannya. Dia tidak akan membiarkan seorangpun tahu. Biar menjadi rahasianya sendiri, pikirnya. Padahal, niat gadis itu baik. Siapa tahu Justin bisa bercerita dengannya dan dia bisa membantunya. Dan pria itu justru mematung sekarang. Sambil terdiam dan itu membuat suasana di sana menjadi canggung. Hanya angin musim dingin yang menerpa wajah mereka berdua. Sementara Bethanie hanya mengetuk – ngetuk gelas kaca miliknya yang sudah kosong karena airnya telah tandas. Dan pada akhirnya Beth yang memecahkan keheningan itu. Gadis itu berdiri. Kemudian menghadap kepada Justin.
            “Baiklah. Jika kau tidak ingin cerita, tapi jangan menyesal. Temanku bilang aku pendengar yang baik. Aku ingin kembali ke kamarku” Bethanie melihat kepada Justin yang sekarang kini menatapnya. Dan dia bisa melihat ada tatapan ragu dan cemas yang sangat kentara di sana. Baru gadis itu ingin meraih kenop pintu, Justin sudah membuatnya berhenti melangkah karena suaranya. Suaranya yang nyaris tidak terdengar.
            “Baiklah. Aku akan bercerita padamu. Duduk kembali” suaranya kedengaran memerintah. Namun, biarlah. Dia sudah terlanjur penasaran dengan jawaban Justin. Pria yang menurutnya bipolar. Bisa menjadi kalem, pemarah, dan misterius seperti saat ini. Tunggu, apakah itu masih bisa dikategorikan sebagai bipolar?
            “Ayo. Mulai cerita!” Bethanie berujar semangat sambil tersenyum lebar. Yang akhirnya malah membuat pria itu ragu kembali, ingin menceritakannya atau tidak pada gadis ini. Baiklah, dia harus menceritakannya. Dan sejujurnya, dia termasuk pria yang terhitung gengsi jika ingin membicarakan masalah pribadinya pada orang lain. Bahkan, dia jarang berbicara pada Kiena ataupun pelayan – pelayan Justin yang lain.
            “Kau tahu. Sebelum aku dikutuk seperti ini, aku dan Naomi bahkan seperti sepasang sepatu yang tidak dapat dipisahkan. Namun, saat Serena datang semuanya berubah. Sama seperti keluargaku, saat mereka tahu bahwa wajahku seperti ini. Mereka malah mengasingkanku dan membuatku semakin menyesali keadaan, mereka tidak mendukungku. Dan itu membuatku terpukul, aku merindukan ibu dan ayahku” Justin menghela napas panjang dan berat. Seolah, baru saja merasakan sedikit bebannya hilang dibawa angin. Dan Justin melihat pada gadis itu. Matanya berkaca – kaca. Hampir menangis.
            “Kau harusnya menyuruh mereka datang ke sini. Bukan memendam rasa rindumu seperti itu” harusnya kau juga melakukan itu, batin Bethanie bahkan ikut bersorak.
            “I think, Somehow they wouldn’t want to see me” dan pada saat itu juga. Air mata gadis itu jatuh. Justin meliriknya bingung. Juga merasa tersentuh, gadis keras kepala dan pemberontak seperti dia saja bisa menangis. “Beth. Kau baik – baik saja, kan?” Justin melirik cemas pada gadis itu. Sementara, Beth justru makin menangis dengan keras. Pria itu bahkan harus mengguncang – guncang tubuh wanita itu lumayan keras.
            “Orangtuaku ingin bercerai” jelasnya terbata – bata. Dadanya sudah sesak. Dia tidak pernah menceritakan masalah pribadinya kepada siapapun. Bahkan, Jessica sekalipun. Saat dirinya ditanya apakah dia baik – baik saja, harusnya dia menjawab tidak. Dan pada kenyataannya Bethanie hanya tersenyum masam sambil mengucapkan ‘I’m Fine’ dan baru kali ini dia menangis di depan orang yang belum dua puluh empat jam dia kenal. Dia tidak peduli jika Justin akan meledeknya atau menertawainya. Dia hanya ingin meluapkan rasa bencinya atas perceraian orangtuanya dengan menangis. Karena menurutnya itu jalan satu – satunya.
            “Bercerai?” Bethanie mengangguk sambil mengusap air matanya sendiri. Dia mengusapnya sendiri tetapi air matanya tetap mengalir.
            “Mereka ingin berpisah tanpa mempedulikan pendapatku. Mereka menganggap aku seolah tidak ada di antara mereka. Rasanya sakit” dan saat dia menatap mata Justin. Yang dia dapatkan adalah ketenangan. Mata itu seolah mengatakan semuanya akan baik – baik saja. Dan pada akhirnya jari – jari Justin bergerak mengusap air mata Beth. Entah, mendapat dorongan dari mana. Yang jelas, Justin melakukan itu seolah bukan keinginannya. Dan tubuh gadis itu menegang saat jari – jari Justin hangat Justin mengusap air matanya. Seperti ada aliran listrik beribu – ribu voltase yang menghujam tubuhnya. Tidak, tidak. Dia tidak bisa menyukai pria ini.
            “Aku tidak suka melihat seorang wanita menangis” ujar pria itu sambil menjauhkan jari – jari tangannya dari wajah Beth. Dan wanita itu justru diam. Menatap pria itu dengan ribuan pertanyaan.
            “Sejujurnya aku bisa merasakan apa yang kau rasakan. Kau tahu, merasa seperti dihindari menjadi perasaan yang paling kubenci. Aku tidak suka orang – orang menjauhiku” gadis itu menepuk – nepuk punggung Justin. Berharap bahwa pemuda itu merasa lebih baik. Dan saat tangan Beth menepuk – nepuk punggungnya, Justin memang merasa bahwa dia disemangati dan perasaannya lebih baik dari sebelumnya. “Dan di saat seperti ini, rasanya aku ingin menjauhi mereka dan tinggal di sini” Justin nyaris terlonjak mendengar penuturan gadis ini. Dia ingin tinggal bersama Justin?
            “Maka, tinggalah bersamaku”
            “Aku tidak bisa. Mereka semua mencariku, aku juga merindukan Jessica” Justin sempat mengernyitkan dahinya dan saat melihat ekspresi wajah Justin yang seperti itu dia keburu berbicara. “Dia sahabatku”
            “Bethanie” Justin sedikit ragu apa yang ingin dia ucapkan, tapi kemudian dia memberanikan diri untuk berbicara. Bethanie menoleh dan melihat pada Justin dengan bingung.
            “Apa?”
            “Kau mau tidak, menemaniku malam ini saja. Tidur bersamaku, aku bersumpah tidak akan melakukan apa – apa padamu. Aku hanya ingin… memelukmu. Malam ini saja” rasanya ribuan kupu – kupu seolah berterbangan di dalam perutnya. Dan rasanya pipi gadis itu terbakar sekarang.
            “Baiklah. Bukan masalah buatku” balas gadis itu dengan wajah yang konyol. Dia berusaha terlihat biasa saja, namun sekarang dia justru terlihat seperti idiot. Dan Justin tertawa, lumayan keras. Dan baru kali ini rasanya dia melihat Justin tertawa seperti itu. Tawa itu seperti menular padanya dan dia hanya bisa tersenyum. Tersenyum kikuk lebih tepatnya. Mereka melihat jam dinding yang terus bergerak jarum panjangnya. Dan sekarang jam menunjukkan pukul Sembilan malam. Pada akhirnya gadis itu meletakkan gelas kosong yang sedari tadi masih ia pengang ke meja yang berada dekat ranjang Justin. Kemudian gadis itu merebahkan tubuhnya di sana hingga ranjang tersebut terguncang. Astaga. Gadis ini memang kadang – kadang masih berkelakuan seperti anak kecil. Justin kemudian merebahkan tubuhnya di samping Beth. Dan entah mengapa rasanya berbeda saat dia merebahkan tubuhnya di samping Beth, bukan Naomi. Saat bersama Bethanie rasanya dia ingin tersenyum terus menerus.
            Dan saat tangan Justin memeluk tubuh mungil wanita itu dan dia merasakan tubuh Bethanie menengang. Tapi Justin tetap memeluknya dan meletakkan dagunya di puncak kepala gadis itu. Awalnya, Bethanie merasa risih. Tetapi seiring dirinya semakin mengantuk gadis itu akhirnya memeluk tubuh Justin juga dan menempatkan wajahnya pada dada bidang pria itu. Dan pada saat itu, ada seseorang yang melihat itu dari jendela yang berada di samping pintu kamar Justin. Dia mengintip dari sana dan rasanya dada orang itu sesak melihat mereka berdua tengah berpelukan dalam keadaan tertidur. Pada saat itu pula, orang itu memiliki niat jahat, untuk memisahkan mereka berdua.


****


Bethanie’s View


            Aku terbangun di pagi ini dan melihat Justin masih berada di sampingku. Masih memelukku. Dan membayangkan itu aku tersenyum diam – diam. Biar saja, kau boleh menganggapku gila. Walaupun, aku tahu wajah Justin yang kemarin sudah berubah kembali menjadi wajah menyeramkannya. Dan sekarang aku sudah tahu mengapa mata itu memandang dengan sorot kesakitan yang nyata. Mataku menjelajahi wajahnya, walaupun wajahnya sudah berubah. Tetapi mata itu masih sama, dan aku selalu menyukai matanya. Sejujurnya, mata itu kemarin malam sedikit membuatku merasa tenang. Mata itu seolah mengatakan semuanya akan baik – baik saja, dan aku percaya. Aku merasakan pipiku merona saat jari – jari tangan Justin kemarin mengusap air mataku. Demi Tuhan. Apakah aku jatuh cinta padanya? Bah, mana bisa seorang Bethanie Turner jatuh cinta pada seorang Justin yang berkepribadian ganda. Lihat saja, nanti dia akan bersikap seperti apa pagi ini.
            Dan tanpa sengaja, tanganku menelusuri wajahnya. Dan aku selalu suka melihat wajah seseorang yang sedang tertidur, aku selalu suka. Dan aku juga suka melihat Justin tertidur. Wajahnya damai, seperti anak kecil yang polos. Dan tanpa sengaja tanganku menyentuh hidungnya, saat itu pula dia mulai mengerjap – ngerjapkan matanya yang indah itu. Dan aku rasanya harus menampar pipiku di pagi hari ini, dia tersenyum padaku. Bunuh saja aku. Pipiku rasanya sudah terbakar lagi sekarang, seperti tersengat matahari di Miami yang panas.
            “Selamat pagi, Beth” mendengar itu rasanya diriku seperti ah aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Caranya mengucapkan itu berbeda, berbeda dari Will ataupun mantan kekasihku yang sebelum – sebelumnya. Aku membalasnya tersenyum.
            “Pagi, Justin” kenapa suasananya menjadi canggung begini? Sialan. “Oh, aku harus mandi sekarang” aku tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan gigi putihku. Dia tertawa dan melepaskan pelukannya padaku. Kenapa saat tangan itu beranjak pergi dari pinggangku aku seperti merasa kehilangan? Sudahlah, Bethanie bodoh harus mandi sekarang, pikirku. Aku beranjak dari ranjang besar Justin dan berjalan keluar kamar.
            “Beth” demi Tuhan. Pria ini, aku kembali membalikkan badanku dan melihatnya tersenyum.
            “Sampai bertemu di meja makan”
            “Ya. Sampai bertemu juga,” setelah itu aku benar – benar keluar dari kamar Justin. Dengan perasaan yang campur aduk. Antara senang dan bingung. Sial, aku menggeleng – gelengkan kepalaku dan masuk ke dalam kamarku.


________________


Justin’s View


            Entah kenapa. Pagi ini aku merasa senang dan merasa lebih hidup kembali sejak empat bulan terakhir. Apa ini karena Bethanie? Konyol. Mana bisa gadis itu merubah hidupku dalam waktu singkat. Sekarang aku tengah duduk di meja makan sambil menyeruput the herbalku. Dan sesaat kemudian aku melihatnya tengah menuruni anakan tangga sambil tersenyum. Sejak kejadian kemarin malam semuanya berbeda. Baik aku maupun dia. Dia duduk di salah satu kursi meja makan dan mengambil sesuatu buah – buahan untuk sarapan paginya. Dia menggigit apel sambil memikirkan sesuatu.
            “Kau tidak makan telur dan dagingnya?” dia tersadar dan kemudian menoleh kepadaku.
            “Tidak. Aku mempunyai alergi kepada telur dan aku tidak suka daging merah. Jadi aku hanya makan buah dan sayur” aku mengernyit. Gila, memang apa rasanya hanya memakan sayur dan buah sepanjang hari? “Hanya daging ikan salmon dan tuna yang aku makan” aku mengangguk – anggukkan kepalaku mengerti.
            “Beth”
            “Hm?” jawab gadis itu masih memandang pada langit – langit.
            “Kau mau berjalan – jalan di sekitar kastilku?” dia memberikan tatapan menyelidik padaku yang membuatku ngeri. Kemudian mengangguk.
            “Boleh juga, setelah sarapan?” sekarang aku yang mengangguk. Dia menghabiskan apelnya dalam waktu sebentar kemudian meminum air mineral yang berada dalam gelas itu hingga habis. “Sekarang?”
            “Tentu saja” aku menggandeng tangannya untuk keluar. Dan aku melihat Kiena sedang tersenyum padaku, aku mengerti apa tatapan mata itu. Aku membalasnya tersenyum. Kemudian kami berdua melangkah keluar kastil yang dingin.
            “Ini lebih dingin dari yang kubayangkan, kau tahu? Seperti sedang ada badai salju” aku mendengarnya berbicara.
            “Ya. Dan ini yang menyebabkanku jarang keluar dari kastil, udaranya terlalu ekstrim” aku merasakan telapak tangannya yang dingin. “Kau kedinginan?” tanyaku. Dia tertawa sambil menepuk – nepuk bahuku.
            “Kau bercanda. Aku pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya, saat Chicago dilanda badai salju. Dan aku sama sekali tidak keluar rumah selama satu minggu. Gila, kan?” aku hanya menganggukkan kepalaku dan kami tiba di sebuah tempat yang sudah dilapisi es tebal yang licin. Tempat ini sangat luas. Aku tahu ini adalah sebuah danau yang membeku.
            “Ini danau yang membeku” ujarku. “Mau bermain ice skating bersamaku?” dia mengernyitkan dahinya bingung.
            “Aku memakai sepatu berbulu musim dingin bodoh, mana bisa?” dia meremehkanku rupanya. Aku segera menarik tangannya untuk bermain ice skating bersamaku di danau ini. Dan dia menjerit tertahan kemudian menepuk bahuku cukup keras. “Kau mengagetkanku!” decaknya sebal. Tetapi, sesaat kemudian dia menggerakkan kakinya yang terbalut sepatu berbulu musim dingin tersebut perlahan – lahan. Dia Nampak terkejut, padahal alas sepatu ini sama sekali tidak licin.
            “Benar kan, apa kataku?” ujarku sambil menggerakkan kakiku di atas danau yang membeku ini dengan cepat. Aku adalah pemain hockey yang handal. Jadi aku terbiasa dengan ini semua. Dia juga sepertinya terbisasa dengan ini semua.
            “Sudah lama sekali aku tidak bermain ice skating. Terakhir, saat umurku lima belas tahun” dia kembali menggerakkan kakinya dan memutar tubuhnya seperti balerina. Demi Tuhan, aku terbahak melihatnya seperti itu. Rasanya aneh saja. “Apa yang kau tertawakan?”
            “Tentu saja kau”
            “Sialan” umpatnya sambil menggerak – gerakkan kakinya meluncur di atas lapisan es ini. Dia kemudian bergerak mendekatiku dengan kecepatan lumayan. “Ha, akan kutangkap kau!!” dia berlagak seperti penyihir. Dasar. Aku kemudian mempercepat gerakanku dan dia mendengus sebal.
            “Tangkap aku” ledekku. Aku melihat ke belakang dan dia memberikan tatapan garangnya. Bah, dia pikir aku takut? Aku semakin bergerak menjauhinya dan dia juga semakin meluncur dengan cepat. Dan tanpa terduga dia terjatuh dengan keadaan terduduk di atas es yang dingin ini.
            “Shit” makinya kemudian berusaha berdiri dan jatuh lagi. Aku menahan tawaku. Takut – takut jika dia akan marah nantinya. “Bokongku sepertinya keram. Esnya dingin sekali!” dan saat itu juga aku tertawa sambil mengulurkan tanganku padanya. Dia membalas uluran tanganku dan membuatku jatuh terduduk juga. “Nah, kita impas” dia menyeringai geli. Dan berpegangan pada bahuku untuk berdiri dan dia berhasil. “Pegang tanganku” perintahnya. Dan saat itu juga dia menarik tubuhku untuk bangun. “Kau berat sekali. Seperti karung tepung” desisnya sebal sambil terus mencoba membangunkanku berdiri dan akhirnya berhasil.
            “Thanks” aku melihatnya mengangguk.
            “Bagaimana jika kita duduk sebentar. Di batang pohon yang sudah tumbang itu” dia menunjuk batang pohon besar yang tumbang. Aku mengangguk dan berjalan menuju ke sana. Kemudian kami duduk di sana sambil memandangi danau beku yang di kelilingi pepohonan ini. Kebanyakan adalah pohon pinus. “Justin”
            “Apa?” dia memandangku serius.
            “Kau tahu, kukira ini akan menjadi liburan musim panas terburukku” dia menghela napasnya yang membuat kepulan asap tipis dari hidungnya. “Apa lagi saat aku terjebak di dalam kastilmu dan aku tinggal di sana dengan orang yang sama sekali tidak kukenal. Rasanya semakin buruk”
            “Jadi kau—“ belum sempat aku melanjutkan ucapanku dia meletakkan jari telunjuknya di depan bibirku.
            “Aku belum selesai” potongnya kesal. Aku melihatnya memutar bola matanya, hal yang biasa dia lakukan saat dia merasa kesal. “Dan sejak kejadian malam kemarin. Aku merasa semuanya lebih baik, perasaan seperti kau tidak akan meninggalkanku. Dan aku merasa tenang saat aku menangis dan kau mengapus air mataku dengan.. tulus”
            “Kau membuat hidupku lebih hidup. Aku tidak tahu, aku belum pernah merasakan perasaan ini semenjak empat bulan terakhir. Dan pada kenyataannya kau yang baru masuk ke dalam hidupku bahwa aku semakin hidup. Aku menikmati setiap detik saat aku bersamamu dan aku berpikir…” apakah aku terlalu cepat mengatakan ini? Tetapi, musim semi akan segera datang.
            “Aku baru merasakan cinta yang sebenarnya sekarang” deg. Jantungku seolah berhenti berdetak saat dia mengucapkan itu. Dia mendekatkan tubuhnya padaku dan mengecup bibirku. Aku benar – benar merasakan bibirnya yang dingin menyentuh bibirku. Dan setelah melepaskan ciumannya dia tersenyum. Aku memeluknya erat – erat.
            “Aku tidak ingin kehilanganmu, Beth”
            “Aku juga. Kau menjadi pusat duniaku sekarang” aku meletakkan daguku di puncak kepalanya seperti kemarin malam saat aku memeluknya. Dan tiba – tiba terdengar suara derap langkah kaki yang heboh. Aku langsung melirik pada jalanan dan melihat Naomi berdiri di sana sambil memandangi kami berdua dengan penuh emosi. Dan saat itu juga dia membawa sebuah pisau. Astaga, jangan bilang dia ingin. Dia berjalan mendekatiku dan menusukkan pisau ini pada bagian perutku. Astaga, ini sangat sakit. Aku memegang perutku dan melihat darah pada perutku sendiri.
            “Ini untukmu. Dan sekarang giliran gadis sok, ini” aku melihat pada Beth. Dia Nampak ketakutan. Dan dia melempar segenggam salju pada wajah Naomi. Aku tidak ingin melihatnya mati dibunuh Naomi. Dan pada saat itu pula aku melihat Kiena dan satu pengawalku bergerak mendekat padaku.
            “Selamatkan dia dan bawa dia pergi” ujarku tidak sabaran. Aku merasakan perutku semakin sakit dan darah yang keluar bertambah banyak. Pengawalku yang tadi menyelamatkan Beth dan membawaku pergi. Aku masih melihat Naomi mengerjarnya, berhasrat untuk membunuh Beth.
            “JUSTIN!!! I LOVE YOU!! I DON’T WANNA LOOSE YOU!!” aku sayup – sayup mendengarnya berteriak dan aku melihatnya dengan jelas. Dia menangis. Aku tidak suka melihatnya menangis dan sekarang aku justru yang membuatnya menangis. Kau tahu, aku hanya ingin melindunginya dan membuatnya aman. Aku melihatnya berlari menjauh dengan pengawalku dan saat itu aku tahu. Aku tidak pernah ingin kehilangannya. Dan sekarang aku tidak melihat apa – apa. Semuanya gelap. 

I miss you

(Buffer : Jordin Sparks ft Chris Brown – No Air)        


Bethanie’s View


            Aku sekarang tengah berlari di tengah hutan yang dua hari lalu aku lewati. Aku sekarang tengah dikejar oleh Naomi, dan dia sangat menyeramkan saat ini. Dia terus berlari di belakangku juga pengawal Justin yang waktu itu menarik tanganku karena aku dituduh sebagai penyusup. Air mataku terus mengalir membasahi pipiku. Bagaimana jika Justin mati? Itu artinya aku akan kehilangan dirinya untuk selama – lamanya. Tanganku terus dicengkram oleh pengawal Justin dengan erat. Aku mengerti maksudnya. Jadi, aku tidak mungkin memprotesnya sekarang juga, gadis itu membawa pisau yang sudah dilumuri darah Justin. Demi Tuhan. Ini sangat menyeramkan. Kau tengah berada di dalam hutan tanpa petunjuk arah dan ada seseorang yang berada di belakangmu ingin membunuhmu. Tubuhku rasanya menggigil.
            “Bagaimana jika Justin mati?” tanyaku pada pengawal itu, jujur saja. Kakiku sudah lelah sekarang. Peluh sudah membasahi pelipisku. Dan entah kenapa, melihat keadaan Justin seperti tadi. Rasanya aku ingin mati saja sekarang. Lagi pula, kenapa pengawal bodoh ini tidak menonjok atau memukul Naomi saja?
            “Dia tidak akan mati, nona. Ada Kiena yang akan menolongnya di sana. Yang sekarang dia khawatirkan adalah kau. Dia takut kau dibunuh oleh Naomi” kami masih terus berlari. Sejujurnya, aku kasihan juga pada pengawal ini? Bagaimana jika nanti dia mati? Ya Tuhan, jangan sampai. Tiba – tiba aku melihat Naomi di belakang berhenti sejenak. Dia bersandar pada batang pohon besar. Dan saat kami tidak lari sekencang tadi. Aku melihat ke belakang dan dia menuju ke arah kami. Dengan lari yang kencang. “Kau lari saja!! Cepat pergi dari sini. Aku yang akan menghadapinya” aku mengangguk dan berlari lagi hingga aku melihat tubuh Naomi dan pengawal tadi semakin tidak terlihat. Aku mulai berjalan tanpa arah dengan keadaan yang mengenaskan. Terjebak di tengah hutan dan aku tidak tahu aka nada binatang buas yang mungkin menerkamku di sini atau tidak. Aku haus sekarang. Dan aku tidak tahu harus mencari air di mana. Aku bukan survivor yang bisa bertahan hidup di manapun.
            Pada akhirnya aku memutuskan menyandarkan bahuku pada sebuah batang pohon besar, aku menengadahkan kepalaku. Aku mendengar nafasku sendiri, suara detak janjungku yang seperti dipukul – pukul dengan keras. Aku melihat keadaan sekitar lagi, memastikan bahwa tidak aka nada binatang buas yang akan menyerangku sekarang. Tubuhku benar – benar lelah dipaksa berlari – terus menerus tanpa henti untuk mengejar Naomi. Dia memang sialan. Dan saat aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa Naomi menusukkan pisau yang dia bawa ke perut Justin rasanya aku merasakan air mata turun lagi. Sialan. Aku selalu benci pada keadaan seperti ini. Ketika aku sudah mencintainya dalam arti kata yang sebenarnya kami berpisah. Berpisah dengan cara yang mengenaskan. Setelah aku ingat – ingat lagi. Ternyata ini rasanya patah hati. Dan saat ini aku baru mempercayai bahwa sesungguhnya kisah cinta di dunia ini tidak selalu berakhir bahagia seperti dalam dongeng. Karena aku termasuk di dalamnya. Dan, karena aku terlalu lelah aku memejamkan mataku karena kepalaku terasa ditiban berton – ton batu.


***


Author’s View


            Seluruh siswa di Hanley Senior High School mencari Bethanie di pesisir pantai. Sudah dua hari kiranya Jessica tidak bisa tidur dengan tenang, dia baru bisa tidur di pagi hari saat Nick datang ke dalam kamar hotelnya dan memeluknya hingga dia benar – benar tertidur. Dia benar – benar menyesal meninggalkan Bethanie menyusuri pantai sendiri. Dan setiap mengingat Bethanie dia selalu menangis. Ada garis hitam di bawah matanya, dia terlalu lelah. Liburan yang seharusnya menjadi hal yang menyenangkan. Kini berubah menjadi petaka bagi mereka. Baik murid – murid maupun guru – guru. Karena, pihak sekolah juga pasti akan merasa dirugikan dengan ini. Pertama, orangtua Bethanie pasti melaporkan kejadian ini pada polisi dan yang kedua menurut pihak sekolah yang paling merugikan. Orangtua Bethanie pasti tidak akan menjadi donatur di sekolah itu lagi dan bisa saja, dia menuntut untuk mengembalikan uang yang sudah Mr. Turner sumbangkan kepada sekolah itu. Jessica sekarang tengah ikut menyusuri pantai juga bersama yang lain, tetapi sekarang dia selalu di dampingi Nick.
            “Kau yakin bahwa Beth akan ditemukan?” Tanya Jessica. Dia menyandarkan kepalanya pada lengan Nick. Pria itu mengacak – acak rambut pirang Jessica dengan lembut.
            “Tentu saja. Karena dia pasti akan kembali bersamamu, trust me” Nick member semangat. Namun, setelah dia pikir – pikir lagi, menemukan Bethanie rasanya seperti mencari jarum dalam jerami. Mereka bahkan sudah melakukan pencarian sejak dua hari yang lalu dan hasilnya nihil. Mereka sama sekali tidak menemukan Bethanie di sana. Dan sore ini rencananya seluruh murid akan segera pulang kembali ke Chicago. Jika, Beth masih belum ditemukan hari ini juga. Terpaksa, pihak sekolah harus menetap di Miami sampai Beth ditemukan. Ini sudah hampir sore dan karena Beth masih belum ditemukan. Pihak sekolah akan menetap sebentar di Miami untuk mencari Beth yang hilang dengan misterius.
            “Ayo kita kembali ke hotel. Kita harus membereskan barang – barang yang masih belum dipak” balas Jessica sambil berjalan ke hotel kembali bersama Nick. Dan saat jam menunjukkan pukul tiga sore yang artinya mereka akan berangkat dari hotel sekitar setengah jam lagi. Jessica yang sudah mengemas barang – barangnya berjalan menuju lift menuju lantai sepuluh. Belum sempat dia menuju lift dia sudah bertemu pria itu yang sepertinya menuju kamarnya.
            “Jess. Aku baru saja ingin ke kamarmu”
            “Kita bisa ke tempat kemarin sebentar? Aku masih penasaran. Aku berjanji, hanya sebentar saja. Kalau kita tidak menemukan Beth kita kembali ke hotel” rajuk gadis itu. Nick menyodorkan jari kelingking kanannya pada Jessica.
            “Promise?”
            “Pinky Promise” kelingking kanan Jessica ikut ditautkan pada kekasihnya itu. Dan kemudian mereka berdua masuk ke dalam kubikel lift yang kosong dan menekan tombol satu di dalam lift tersebut yang akan mengantarkan mereka ke lobby hotel. Setelah mereka keluar dari lift Jessica menarik tangan Nick menuju ke pantai dan menyusurinya. Dan saat melihat keadaan sekitar pantai itu yang tidak ada seorangpun kecuali mereka berdua dia menghembuskan napas berat yang sarat dengan putus asa. “Dia memang tidak ada di sini, baiklah kita kem—“
            “Jess” mendengar suara itu. Omongan Jessica berhenti. Dia seperti mengenalnya.
            “Kau mendengarnya? Seperti ada yang memanggil namamu” Nick melihat keadaan sekitar.
            “Jessica” suaranya terdengar sangat kecil, nyaris ditelan oleh suara deburan ombak. Tetapi, mereka berdua masih dapat mendengarnya. Dan saat menelaah lagi, suara itu dia langsung mengenalinya.
            “BETHANIE!! ITU KAU, KAN? KAU DI MANA?” teriak Jessica. Dia melihat sekelilingnya dan mendekati sebuah semak – semak.
            “Aku dibalik semak – semak, I need your help” dan setelah itu mereka berdua berlari menuju semak – semak dan menemukan Beth dalam keadaan yang mengenaskan. Wajahnya pucat, sepucat kertas. Bibirnya hampir berubah warna menjadi biru, dan matanya sembab. Seperti habis menangis. Kontan, saja Jessica langsung memeluk tubuh Bethanie sambil menangis dan merasakan bahwa tubuh gadis itu benar – benar dingin.
            “Nick, tubuhnya sangat dingin. Aku pinjam jaketmu sebentar saja. Kita harus segera membawanya ke hotel. Kau mau menggendongnya, kan?” Nick melepaskan jaketnya kemudian mengangguk. Jessica dengan cepat membungkus tubuh gadis itu dengan jaket kulit Nick, dan pria itu segera menggendong Bethanie dengan… gaun? Jessica mengernyit bingung. Bethanie pergi menggunakan cropped tee dan hotpants? Dan sekarang dia menemukannya dengan gaun.
            “Jessi. Apa yang kau tunggu? Ayo” ujar Nick. Jessica mengangguk kemudian ikut berlari bersama Nick yang membawa Bethanie menuju hotel. Saat Mrs. Charleston melihat kehadiran mereka berdua, yang tadinya niatnya ingin memarahi tidak jadi setelah melihat siapa yang mereka berdua bawa.
            “Mrs. Charleston, bisakah anda membantu kami mengubungi rumah sakit dan tidak hanya berdiam diri disitu?” sindir Jessica jengah sambil memutar bola matanya kesal. Dan Mrs. Charleston buru – buru menghubungi rumah sakit terdekat dari sana.


Bethanie’s View


            Aku tidak tahu, aku berada di mana sekarang. Yang jelas aku melihat semuanya putih. Dan aku masih memakai gaun yang sama saat kejadian pahit itu berlangsung. Gaun berwarna biru pastel yang cantik, saat aku mengerjap – ngerjapkan mataku aku seperti berada di dimensi yang berbeda. Aku melihat diriku sendiri tengah duduk bersama Justin di kamarnya. Aku melihat diriku menangis dan dia mengusap air mataku. Dadaku sesak saat melihat itu, aku seperti menjadi penonton di bioskop. Bagaimana keadaan Justin sekarang? Apakah dia selamat atau tidak? Aku melihat lagi kejadian menyakitkan itu. Aku melihat Justin memelukku, dengan erat. Dan tiba – tiba Naomi datang dengan membawa pisau. Dan menancapkan pisau itu pada Justin. Dan aku mendengar ‘aku’ meneriakkan bahwa aku mencintainya dan aku tidak ingin kehilangannya. Demi Tuhan, ini lebih menyakitkan saat aku mengerjapkan mataku kembali. Tempat ini berganti menjadi danau beku, tempat terakhir kali aku melihat pria yang kucintai. Rasanya aneh saja, dan saat aku mengerjapkan mataku kembali aku melihat Justin di hadapanku. Dia tersenyum padaku. Dan saat itu juga aku menangis kembali.
            “Shh. Don’t cry, baby.” tangisanku semakin menjadi – jadi saat mendengar suaranya. Apakah ini nyata? Jika ini mimpi. Jangan pernah bangunkan aku karena aku masih ingin bersamanya.
            “You’re going to stay, aren’t you?” tanyaku sambil melihat pada mata hazel itu. Sekali lagi dia tersenyum.
            “Ya, aku tidak akan meninggalkanmu” dia menghapus air mataku yang turun. Dan tangan itu, jari – jari itu. Terasa begitu nyata. Dan saat aku ingin memeluknya dia semakin menjauh dan lebih jauh lagi.
            “JUSTIN!! JANGAN TINGGALKAN AKU!!” aku berteriak keras. Dan air mata itu pecah kembali. Bahuku terguncang karena tangisku sendiri. Dadaku semakin sesak. Dan saat itu pula, aku mendengar suara lain. Suara yang kukenal tetapi itu bukan suara Justin.
            “Bethanie. Kau harus segera sadar, aku merindukanmu” itu suara Jessica. Percayalah Jess, aku juga merindukanmu melebihi apapun. Dan aku mendengarnya menangis. Suara Jessica seolah terus berputar di kepalaku. Dan saat itu juga pula aku melihat Justin kembali lagi dan menatapku dengan senyum.
            “Kembali Beth. Mereka membutuhkanmu,”
            “Justin, tapi aku—“
            “Kita pasti akan bertemu lagi. Walau, dalam dimensi yang berbeda”


______________________


            “DEMI TUHAN!! NICK, PANGGIL DOKTER SEKARANG!! DIA SUDAH MENGERJAP – NGERJAPKAN MATANYA!!” aku mendengar suara teriakan cempreng yang selalu mengingatkanku pada.. Jessica!! Aku mulai mengerjap – ngerjapkan mataku kembali. Kepalaku sedikit pening dan saat ini cahaya berebut masuk ke dalam pupil mataku. Ya Tuhan. Dan saat sudah melihat dengan jelas keadaan sekelilingku aku melihat Jessica menangis sambil tersenyum padaku. “Ya Tuhan, akhirnya kau sadar juga. Aku sangat merindukanmu, Beth” aku tersenyum mendengarnya. Dan sekarang aku baru menyadari bahwa aku menggunakan selang oksigen. Aku segera mencopotnya. Aku melihatnya ingin segera protes denganku dan setelah itu aku melihat Nick kembali dengan seorang doktor wanita.
            “Akhirnya kau sadar juga, Beth. Keluargamu dan kedua temanmu ini sangat mencemaskanmu” aku hanya tersenyum bingung mendengarnya. Memangnya berapa lama aku di sini? Dan dokter tersebut memeriksa denyut jantung dan mataku sebentar sebelum akhirnya tersenyum. “Kau sudah kembali dari masa kritismu. Aku tinggal dulu dan akan menghubungi keluargamu” apa? Kritis? Dokter tadi pasti bercanda.
            “Aku kritis, Jess?” Jessica menganggukkan kepalanya seraya mengusap air matanya.
            “Kau kritis menginjak hari ke delapan. Aku benar – benar merindukanmu” dia memelukku dengan erat. “Nick selalu menemaniku saat menjagamu sehabis pulang sekolah”
            “Ah, percayalah. Aku juga merindukanmu. Terima kasih Nick, aku senang kau selalu berada di samping Jessica” dia tersenyum.
            “Nope. Aku senang bisa membantumu juga. Btw, kenapa waktu aku menemukanmu kau dalam kondisi memakai gaun? Kau dipaksa kawin lari?” hah? Gaun? Dadaku terasa sesak mendengar penuturan itu. Dan memoriku kembali memutarkan kejadian itu lagi. Justin tertusuk dan.. shit.
            “Oh, ya? Aku lupa” balasku sambil tersenyum. Padahal aku mengingatnya, sangat jelas. Aku hanya tidak ingin mereka tahu di mana aku berada selama dua hari aku menghilang. Walaupun, jelas saja semua orang akan menanyakanku pertanyaan itu, aku hanya ingin ini menjadi rahasiaku dengan Jessica. Aku tidak ingin orang lain yang tahu. Bahkan orangtuaku sekalipun.
            “God bless. Kau sudah sadar, sayang” rasanya aku muak sendiri mendengar suara ibuku dan aku melihat ayahku berada di belakangnya sambil tersenyum kepadaku.
            “Ya. Aku sudah sadar” dan tanpa dikomando aku melihat Nick dan Jessica keluar sebentar dari ruang rawat VVIP ku.
            “Kau dimana waktu dua hari itu, Beth?” Tanya ayahku aku mencoba berakting dengan mengernyitkan dahiku.
            “Aku tidak tahu, aku lupa, dad” aku berbohong.
            “Oh, baiklah tidak usah dipaksakan Jimmy. Yang penting Beth sudah kembali pada kita sekarang” ujar ibuku dan pertanyaan yang menghantam batok kepalaku sekarang adalah, apakah mereka sudah bercerai?
            “Mom, dad” ujarku sambil berdeham. “Apakah kalian sudah bercerai?”
            “Kami tidak jadi bercerai. Kami harusnya meminta pendapatmu dahulu dan kami tidak jadi melakukannya” itu suara ayahku. Aku menarik napasku lega, akhirnya mereka tidak jadi bercerai.
            “Karena pada dasarnya aku memang tidak menginginkan kalian bercerai” ujarku pada akhirnya dan mereka berdua memelukku dengan erat. Aku merindukan mereka begini.


(Playing Zedd feat Matthew Koma, Miriam Briant)


            “Kau serius? Kau terjebak dalam tempat aneh itu? Aku bahkan baru mendengarnya. Itu lebih terdengar seperti dongeng beauty and the beast” Jessica masih bingung saat aku bercerita padanya tentang Justin dan segala hal aneh semacam itu. Waktu aku terjebak di dalam kastil dan dituduh sebagai penyusup.
            “Tetapi aku serius. Dan aku benar – benar merindukannya sekarang. Aku merindukan Justin” aku menyenderkan punggungku pada sandaran kursi di kafetaria. Sekarang adalah jam makan siang.
            “Aku turut menyesal. Apakah dia sekarang baik – baik saja?”
            “Aku tidak tahu. Tapi dia bilang padaku bahwa dia dan aku akan bertemu dalam dimensi yang berbeda. Dan hingga saat ini aku masih tidak mengerti” aku menyedot milk shake cokelat dinginku sambil menerawang ke langit – langit. Dan saat itu pula, aku melihat segerombolan gadis berlarian. Aku mengernyit bingung dan memanggil salah satu adik kelasku. Dia salah satu anggota Cheers, jadi aku mengenalnya.
            “Mia, kemari sebentar” wajahnya yang tadinya berbinar – binar langsung berubah tegang saat melihatku. Aku memutar bola mataku sebal. “Apa yang sedang kalian lakukan? Maksudku berlari – lari seperti itu?” tanyaku.
            “Ada anak baru yang tampan. Wajahnya mirip dewa Yunani masa modern” aku tertawa mendengarnya kemudian mengangguk.
            “Kau boleh pergi” setelah aku melihatnya pergi. Aku menatap pada Jessica. Woops, ada pemuda tampan terjebak di sini. Aku harus memastikannya. Hanya untuk mainanku saja, aku masih mencintai Justin. Aku dan Jessica mengikuti arah mereka berlari dan menemukan pria berambut cokelat emas yang berjambul tengah dikerubungi gadis – gadis di sini. Aku harus berjinjit untuk melihatnya dan sama sekali tidak terlihat. Dia memakai kacamata aviator hitam. Aku seperti mengenalnya. “Excuse me!!” decakku sebal dan dengan mudahnya mereka memberiku jalan. Dan saat aku melihat pria itu membuka kacamatanya rasanya jantungku ingin mencelos begitu saja, dia…
            “I miss you” dan saat itu juga tangan hangat itu memelukku. Tangannya masih sama speerti dulu. Aku merasakan buliran bening mengalir melewati pipiku. Dan percayalah bahwa pria itu adalah Justin. Aku berjinjit dan mencium bibir Justin, bibirnya masih sama. Sama seperti yang dulu. Aku merasakan dia menarik senyumnya. Aku menjauhkan diriku padanya dan melihat penampilannya sekali lagi. Dia memang Justin.
            “I miss you too” dan sekarang aku yakin. Bahwa perjalananku tidak sia – sia. Karena pada kenytaannya aku bertemu dengannya lagi. Dan aku sudah mengerti dalam mimpiku saat dia bilang bahwa kami akan bertemu dengannya dalam dimensi yang berbeda. Dan aku menemukan cintaku kembali. Dan aku tahu, ini bukan tentang rupa kalian tetapi, tentang cinta.
naomi
bethanie
So how the story geiz?sorry the story too short. give your comment please.i beg <3 
------------------------------- 
END OF STORY.

1 komentar:

Canina mengatakan...

Kenapa kamu gak izin sama penulisnya dulu:( huhu