dina's storylineʕ•ᴥ•ʔ: [FANFICTION] Resolved Regret

#FANFIksi Refresh Author Stuff buddies

[FANFICTION] Resolved Regret

Title : Resolved Regret
Genre : Hurt
Length : Oneshoot
Rated : T
Requested By : Anaqah Salsabila Syahlani
Maincast :
Justin Bieber as Himself
Danielle Campbell as Herself
Anne Hathaway as Herself
Liam Payne as Himself
Header Note : This just repost story.credit to jihan septi velia (author).please give me feedback like comment if you read the story.no siders aka silent rider ya .oke.xoxo<3

click readmore !

A U T H O R
California, Johnny’s Minimarket
22-03-2014

             “Danielle, Ibu-ibu disana mencari beberapa rangkaian kabel, tolong bantu dia, maybe?”

Danielle mengerjap, menatap Mr. Johnny yang berkacak pinggang sembari berjalan lagi naik kelantai dua. Danielle berteriak, “Oh, okay Johnny!”

            Dia menatap kearah Justin Bieber, sahabatnya sejak dia kecil. Sama-sama tidak kuliah, karena tidak memiliki biaya. Dan memilih untuk bekerja di tempat yang sama, Johnny’s Minimarket. Walaupun tidak begitu menjamin gaji yang besar perbulannya, tetapi itu sudah sangat cukup. Danielle dan Justin bahkan berencana kuliah dengan mengumpulkan uang gajinya sedikit demi sedikit setiap bulan. Tidak ada yang lebih menarik selain hari-hari mereka yang dipenuhi canda tawa, terutama ketika mereka pulang bekerja naik sepeda dan saling berlomba untuk mencetak rekor masing-masing, dan terkadang terjatuh kemudian menjadi bahan tertawaan salah satu yang lain. Bagi Danielle, Justin sangatlah tampan. Sayang dia hanya berpenampilan biasa, memakai kaus seragam Minimarket ketika bekerja, dan memakai kaus polos ketika berada diluar jam bekerja. Tinggal di gang yang sama dengan Danielle, tetapi berbeda jalur ketika berjalan masuk lorong sekitar 200 meter kedalam. Justin akan masuk ke jalur kanan sedangkan Danielle ke jalur kiri.

Sebenarnya ada rasa suka yang menyelimuti perasaan keduanya.

           Kebersamaan dan kedekatan membuat mereka perduli satu sama lain, membuat suatu ikatan yang kuat antara mereka. Justin selalu mempercayai Danielle, begitujuga sebaliknya. Persahabatan itu sangatlah indah mengetahui mereka memang selalu senasib seperjuangan.  Sewaktu kecil, Justin pernah berkata bahwa dia akan menikahi Danielle ketika mereka tamat kuliah, terkadang Danielle menceritakan hal itu kembali pada Justin saat ini dan mereka tertawa. Itu berarti masih lama, bukan? Sedangkan mereka belum kuliah setelah menamatkan SHS. Suatu hari Justin pernah bercerita ketika mereka sedang pulang bekerja bersama sembari menaiki sepeda masing-masing,

          “Danielle, apa kau tahu mengapa aku selalu mengatakan sesuatu tentang harapan masa depan kepadamu?”
          “What, Justin?” tanya Danielle dengan penasaran, melihat kearah Justin yang tersenyum manis kepadanya.
         “Karena aku ingin kau mempercayainya. Aku ingin kau percaya dengan harapanmu.”

         Dan pada saat Justin mengatakan itu, Danielle menoleh padanya dengan tatapan lembut. Justin...

Andai mereka saling mengungkapkan perasaan mereka masing-masing. Tetapi masing-masing dari mereka selalu berpikir bahwa cinta pastilah akan menghancurkan persahabatan mereka. Itu adalah mimpi terburuk. Setiap malam, sebelum tidur, Danielle selalu membayangkan wajah Justin yang ia sayangi dan akan ia temui esok hari, begitupula Justin.

         Ketika Mr.Johnny memanggilnya, Danielle langsung menatap kearah Justin yang sedang duduk disebelahnya, sebelumnya sedang mengobrol dengannya. Justin tersenyum menatap Danielle.
         “Aku akan pergi kesana,” ujar Danielle sembari menunjuk kearah Ibu-ibu yang mencari kabel itu menggunakan jempolnya. Justin terkekeh lalu mengangguk, “Anytime, Dan,” Okay. Dan adalah panggilan yang manis.
          Danielle tertawa diikuti oleh Justin kemudian gadis itu pergi ke lorong diujung Minimarket dimana Ibu-ibu tersebut mencari rangkaian kabel. Danielle berjinjit mengambilkannya kemudian memberikannya dengan senyuman manis kepada Ibu-ibu itu. Setelah melayani setiap panggilan dari pelanggan Minimarket saat itu, Danielle kembali ke kasir dimana Justinsedang menghitung belanjaan dari semua pelanggan. Justin tersenyum kepada Danielle ketika Danielle sampai kedepan meja kasir, lalu Danielle mendekati Justin dan membantunya. Mereka terus bekerja dengan senang hati hingga jam pulang dan Mr. Johnny mempersilahkan mereka untuk pulang karena hari sudah sore, bahkan nyaris gelap.
           Danielle dan Justin berpamitan kemudian mereka keluar dari Minimarket itu dengan pakaian biasa dan menaiki sepeda mereka masing-masing. Bahkan sebelum Danielle naik kesepedanya Justin masih sempat-sempatnya menjahilinya. Ketika mereka keluar dari area Minimarket, Danielle berusaha mengejar posisi Justin yang berada didepannya karena Danielle ingin balik menjahili Justin. Balas dendam itu perlu untuk yang seperti ini, you know?

           “Justin! Ada ular di sepedamu!! JUSTIN!!! JUSTIN!!!!!” teriak Danielle sambil terus berusaha mengejar Justin dengan terengah-engah. Justin sama sekali tak kelihatan takut sedikitpun, bahkan menolehpun tidak. Danielle mulai takut, apa Justin tahu ini hanya taktik?

          “Leluconmu sudah biasa digunakan, Ms. Campbell! Sayang sekali, anda kurang beruntung.” Justin berucap tanpa menoleh dengan gaya bahasa bak host infortainment. Sial, Danielle malah ingin tertawa.
         “Tetapi aku tidak bohong!” teriak Danielle, mengayuh sepedanya lebih kencang lagi. Ah,Justin malah mengayuh lebih kuat! Sialan.
         “Jika kau ingin mengejarku, gunakan kemampuan asli. Kita disini butuh yang asli, dan katakan tidak pada yang palsu, Nona!” teriak Justin dan sontak saja Danielle menganga, sedetik kemudian tertawa tanpa suara lagi. Sebenarnya dari mana Justin mendapatkan kata-kata menyebalkan itu?
         Danielle terengah, “Justin, tunggu aku!!” pada akhirnya Danielle mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengejar Justin dan alhasil Justin sekarang sudah ada disampingnya. Tangan Danielle sibuk mencoba meraih Justin, tetapi Justin terus menghindar. Mereka saling menghindar dan meraih sembari mempertahankan keseimbangan sepeda mereka. Tawa menghiasi keduanya sampai mereka berpisah ketika sampai di lorong yang berbeda arah, dan mereka saling melambaikan tangan.



******



          “Hey, ini punyaku, what—what do you mean—what, ghahaha,” Justin tertawa, karena Danielle terus mencari pinggangnya untuk gadis itu gelitiki. Padahal mereka sedang menjaga Minimarket, menjaga meja kasir. Justin merebut gantungan tas Danielle hingga Danielle merengut kesal.
         “Justin! Kembalikan, he?  I don’t want—please!!” Dengan penuh usaha Danielle meraih benda itu dari tangan Justin. Namun sial, Justin selalu berhasil menghindar dari kedua tangan Danielle, tangan kiri Danielle gadis itu gunakan untuk menggelitik Justin, dan tangan kanannya dia gunakan untuk meraih benda itu dari Justin. Namun Justin selalu pandai mengelak-elak dari gadis itu. Tidak heran jika mulut Danielle merengut seperti bebek sekarang.
         “Uh-huh, okay okay, okay!!! Danielle—hahaha,”

         “Oh, ya, mulai sekarang kau yang menemani Justin di meja kasir, menjaga kasir 01 bersama Justin. Biasanya Danielle yang selalu menemaninya tetapi kupikir itu seperti menduplikat tugas Danielle jadi biarlah Danielle membantu pelanggan saja. Jadi kau yang menemani Justin disana,”

        Justin dan Danielle berhenti bercanda dan kontan melihat kearah suara Mr. Johnny. Disana ada seorang wanita yang berdiri disampingnya, sudah memakai seragam karyawan Minimarket. Danielle baru pertamakali melihatnya begitujuga Justin. Gadis itu cantik. Tetapi...satu hal yang dirasakan oleh Danielle, dia seperti mengenal gadis itu. A—anne? Ya! Itu Anne. Tetapi gadis itu mempunyai suatu kelemahan...Dia mempunyai sedikit kelainan pada jiwanya ketika—ah, sudahlah, yang jelas, Anne itu sudah janda... Tetapi dia masih seumuran dengan Danielle. Dia bahkan masih sangat cantik.

         “Hei,” panggil Anne, menjulurkan tangan kanannya kedepan Justin dan Danielle.
         “Oh—Hei,” Danielle dan Justin menjabat tangan Anne secara bergantian.

Mr. Johnny tersenyum, “Justin, mulai sekarang dia yang menemanimu bekerja di kasir. Danielle, pekerjaanmu berkurang, kau hanya akan melayani pelanggan. Oke?”

          “I—ya, terimakasih, Mr. Johnny,” ujar Danielle. Mr. Johnny mengangguk lalu tersenyum dengan lembut. “Okay.”
          “Alright, mulailah bekerja, kid!” ujarnya lagi kemudian berlalu. Mereka bertiga menatap punggung Mr. Johnny yang kian lama kian menjauh kemudian mereka kembali bertatapan.
     
          “Jadi...aku disini? Nice to meet you.” Anne tersenyum. Justin tertawa kaku.
           “Ah—ya,” Justin menggaruk tengkuknya, “nice to meet you too.”

Tiba-tiba Danielle beranjak, “Errm... Baiklah, aku akan melayani pembeli. Time’s yours, Anne!”

           Lengan Danielle ditahan oleh Anne. Danielle terbelalak dan berbalik lagi. “Ada apa?”
           Anne menggeleng, “Tidak, apakah—sepertinya aku mengenalmu,” Justin terkejut. Danielle memergoki tatapan terkejut Justin kemudian kembali menatap kearah Anne.
          “Ah—ya, kau adalah anak kelas XII A waktu kita SMA. Aku anak kelas XII F waktu itu. Aku sekelas dengan Justin juga, tetapi mungkin kalian tak saling mengenal atau tak saling tahu.”

Anne mengangguk paham. Kemudian senyumnya mengembang lagi. “Baiklah! Aku ingat sekarang. Selamat bekerja!”

           “Oke.” Danielle menyahut. Kemudian Danielle berlari melayani pembeli, dan Anne berkutat dengan pekerjaannya bersama Justin.

          Selama bekerja, Danielle terus memperhatikan Justin dan Anne. Dengan cepat mereka terlihat akrab, tidak memungkiri bahwa Justin memang mudah akrab dengan siapapun yang baru dikenalnya—dan awalnya itu membuat Danielle tersenyum. Dia menyadari bahwa mungkin teman mereka akan bertambah satu lagi.
          Tetapi ada sesuatu yang mengejutkan ketika Danielle melihat tatapan Anne kepada Justin. Ketika Justin sedang melayani pembeli di kasir pun, mata Anne tidak berhenti memperhatikan Justin. Justin yang memang pada dasarnya supel, akan menganggapnya biasa-biasa saja. Tetapi sungguh, Danielle yang memperhatikannya dari jauh rasanya ingin berteriak kepada Justin saat itu juga bahwa Anne terus memperhatikannya. Satu kesimpulan yang memang hanya bisa Danielle ambil untuk saat ini adalah, Anne menyukai Justin.
         Dua jam, tiga jam, empat jam berlalu selama mereka bekerja tetapi Danielle hanya terus memperhatikan mereka yang sangat dekat dalam waktu yang cepat. Bahkan Danielle merasa seolah  dia memiliki mata juling. Beberapa pelanggan bahkan karyawan lainnya yang lewat didekatnya akan mengernyit keheranan ataupun melambai-lambaikan tangan mereka didepan wajah Danielle. Ya Tuhan, ini konyol. Danielle hanya menepuk jidatnya ketika menyadari bahwa dia berlebihan.

          Ketika tiba jam makan siang, Danielle maengambil bekalnya yang ia taruh didalam tas sembari tersenyum. Oh, dia sangat kelaparan dan lelah. Gadis itu segera mendekati meja kasir tempat Justin duduk, dan Justin tersenyum. Anne juga ada disana.
          “Justin, ayo makan bersama!”
          “O—oh, ya! Aku akan menyusulmu setelah ini. Anne ingin berbicara sesuatu, hehe. Makanlah, Danielle! Aku berjanji aku akan menyusul!” Justin tersenyum hingga menampakkan gigi-giginya. Danielle awalnya sedikit terhenyak atas tolakan Justin, dan menoleh sebentar kepada Anne. Tetapi kemudian Danielle kembali menoleh kepada Justin dan tersenyum kering. “Y—ya, aku duluan ya!” teriak Danielle, melambaikan tangannya kepada mereka dan berlari pergi ke ruang di lantai atas, tempat para karyawan biasa makan siang bersama. Danielle berhenti ketika sampai di tangga, menggigit bibirnya. Entah mengapa perasaannya gusar. Dia takut akan sesuatu ketika melihat Justin dekat dengan Anne. Tetapi kemudian Danielle menggeleng, mencoba mengusir pikiran buruknya dan kembali tersenyum. Gadis itu kembali berlari menuju ke lantai atas.

Dan pada akhirnya Justin tak menyusulnya.

          Ketika pulang dari bekerja, Danielle sedang merapikan isi tasnya dan memasukkan seragam kerjanya. Danielle mengangkat tasnya dan mulai memakainya ketika Justin dan Anne muncul dihadapannya.

         “E—eum..Danielle, maafkan aku... Kurasa aku tidak bisa pulang denganmu—dan please, sekali lagi maafkan aku atas tadi siang. Anne—dia ingin kuantar pulang dan aku...aku harus menolongnya. Tidak apa-apa ‘kah, Dan? Kumohon maafkan aku,” Justin merunduk dan memejamkan matanya gusar. Sungguh dia takut Danielle akan marah. Tetapi dia tidak mempunyai pilihan lain. “besok aku akan pulang denganmu. Kumohon maafkan aku,” lanjutnya lagi.

          “Ya, Justin. That’s not problem.”  Danielle tersenyum. Justin sontak mengangkat wajahnya tak menyangka.
          “Benarkah, Dan? Ya Tuhan..kukira kau tak akan memaafkanku,”

Danielle tersenyum lembut.

          “Aku tidak marah padamu, kok.”

Justin tersenyum kemudian mengepalkan tangannya membentuk tinju kedepan Danielle. Danielle terkekeh, kemudian memukul tangan Justin yang terkepal itu dengan kepalan tangannya. Mereka terkekeh bersama didepan Anne yang sedari tadi terus memperhatikan mereka dengan senyuman. Justin akhirnya pergi mengantarkan Anne dan Danielle pulang sendirian, tanpa Justin hari ini.



******



Dan esoknya, Danielle kembali bekerja.
          Pagi yang lumayan menyejukkan. Hari ini Danielle merasa tubuhnya sangat segar, dan dia juga sudah sarapan. Udara sejuk pagi hari pada saat bersepeda membuatnya tambah segar, ah—mungkin menggigil.
         Danielle masuk kedalam Minimarket melalui pintu kaca berdaun dua didepannya, dan matanya langsung bersitatap dengan Justin dan Anne yang duduk di meja kasir. Eh? Apakah Danielle kesiangan?
         “Hai, Dan!” teriak Justin dan Anne bersamaan. Danielle terhenyak mengetahui mereka berteriak pada wkatu yang sama tanpa ada celah jeda sedetikpun.
         “Oh—hai,” ujar Danielle gagap. Justin tersenyum lebar. Justin tampak lebih segar pagi ini, bahkan mungkin lebih segar daripada Danielle.
         “Kau sudah sarapan? Sini, bergabunglah dengan kami!” teriak Justin. Anne juga tersenyum bersemangat. Danielle senang tetapi dia pikir dia sepertinya datang agak telat jadi dia berpikir untuk langsung bekerja. Lagipula sudah ada pelanggan yang berbelanja.
         “Ah... Itu...Aku akan bekerja sekarang! Hehe... Maaf,” Danielle menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Anne tersenyum manis. “Baiklah, fighting okay!”
         “Okay thanks,” ujar Danielle. Justin tersenyum.
         Danielle mulai melangkah menuju lorong nomor tiga dari samping kanan untuk menyusun beberapa detergen disana yang seingatnya kemarin berantakan. Minimarket ini hanya buka sampai sore, jadi tidak ada yang membereskannya ketika semua karyawan sudah pulang di sore hari. Ketika Danielle sampai disana, Danielle langsung merunduk, harus berjongkok karena posisi detergen itu adalah rak yang paling bawah. Danielle tersenyum kemudian mulai menekuni pekerjaannya. Satu persatu ia susun dengan rapi sesuai dengan merk-nya. Danielle terkadang bersiul untuk menghilangkan rasa suntuk.
         Ketika Danielle sibuk menyusun detergen itu, tiba-tiba Danielle melihat sepasang kaki jenjang seseorang dengan balutan sepatu sportnya. Danielle sedikit terkejut, tahu sepatu itu milik siapa. Dan kedengarannya pemiliknya sedang mengerjakan sesuatu di rak atas dekat posisi Danielle. Danielle sontak mendongak keatas.

          “Justin?!” Danielle memicing. Justin menoleh padanya lalu tersenyum, sementara tangan pria itu masih menyusun apa yang ada di rak atas itu.
          “Aku hanya ingin membantu,” ujar Justin. Danielle memiringkan kepalanya, heran.
          “Lebih baik kau kesana, bagaimana dengan kasi—“
          “Anne menjaganya, apakah bergantian sebentar saja tidak boleh?”

Danielle merunduk, menggigit bibirnya.

          “Errm... Bo—boleh, ‘sih,”  Justin tersenyum.
          “Nanti pulang bersama-sama, oke?”
          Danielle menoleh keatas, kearah Justin. “Ya, te—tentu saja.”
          “Oke.” Justin mengedipkan sebelah matanya. Danielle terhenyak kemudian memutar bola matanya. Justin benar-benar sinting.

Pada akhirnya, Justin terus membantu Danielle hingga jam pulang.

           Saat pulang, Danielle keluar dari Minimarket dan langsung mencari sepedanya ditempat parkiran. Danielle menghela nafas, hari yang melelahkan karena banyak sekali pembeli hari ini. Tetapi ini menyenangkan. Danielle mulai melepaskan standart sepedanya menggunakan kakinya, lalu mulai mengeluarkan sepedanya dari himpitan sepeda motor dan mobil disana. Ketika selesai, Danielle langsung menaiki sepedanya dan berencana untuk keluar dari area Minimarket lalu pulang kerumahnya. Dan ketika Danielle baru saja hendak mengayuh sepedanya, sosok Justin yang mengendarai sepeda muncul. Pria itu melambai-lambai pada Danielle. Tak lama kemudian Justin sampai didekat Danielle, mereka terkekeh bersama.
          “Ayo!” ajak Justin. Danielle mengangguk cepat. Mereka mulai menjalankan sepeda mereka masing-masing bersisian.

Ketika berada ditengah jalan, Danielle membuka pembicaraan.

          “Justin,”
          Justin menoleh, “Hmm?”
          “Ah—tidak ada,” ujar Danielle kaku. Sial! Dia tidak berani mengatakannya.
         Justin mengernyit. “Katakan saja, Dan.”
          “Ugh...Itu... Anne itu—orangnya seperti apa?”

Justin tambah menekan kernyitannya.

          “Bukankah kau sudah mengenal Anne? Mengapa kau malah bertanya padaku?” tanya Justin. Danielle terlonjak. Tidak, tidak seperti itu maksudku, Justin... pikirnya.
          “Ti—tidak! Aku tidak mengenali sifatnya lebih dalam, waktu itu hanya sekedar mengetahui saja,”

Justin mengangguk.

         “Dia baik,” ujar Justin. “dan dia sangat menyenangkan.” Danielle mengangguk.
         “Kelihatannya juga seperti itu.” Danielle menyambung, merasa itu adalah penilaiannya selama ini.
         “Hmm.” Justin berdeham.

         Hening.

Mereka hanya fokus dengan jalanan didepan mereka masing-masing. Terhanyut akan suasana damai senja hari yang menyelimuti mereka.

         Dan ketika mereka sampai di lorong simpangan, Justin melambai kepada Danielle, dan dibalas oleh Danielle. Justin berjanji akan menelpon Danielle nanti malam dan Justin benar-benar menepatinya. Mereka mengobrol panjang sebelum tidur, bercanda bersama, hingga Justin menyanyikan sebuah lagu untuk Danielle sampai Danielle tertidur. 




******



          “Hah! Ya Tuhan, semoga saja tidak terlalu siang ketika aku sampai disana!” teriak Danielle ketika dia mengayuh sepedanya dengan kencang karena dia merasa bahwa dia akan kesiangan. Gawat! Mr. Johnny tidak suka karyawan yang lalai dan malas. Danielle sangat takut hal itu akan terjadi.
         Ketika sampai didepan Minimarket, Danielle langsung memarkirkan sepedanya dan ketika selesai, dia langsung berlari masuk kedalam Minimarket itu. Danielle terengah-engah ketika dia sampai, beberapa karyawan menanyakannya apa yang terjadi. Hell, tidak ada terjadi apapun, hanya terlambat.
         “Pagi,” sapa Bertha kepada Danielle. Danielle tersenyum.
         “Pagi!!” balas Danielle. Kemudian Bertha kembali bekerja. Danielle menoleh pada kasir yang berada tepat disamping pintu, dan mendapati Justin sudah ada disana, sedang mengobrol dengan Anne. Justin bahkan tidak menyadari kedatangan Danielle. Danielle tersenyum dengan cerah kemudian mendekati meja kasir untuk menyapa mereka, terutama Justin.

         “Hei guys! Pagi,”
         Justin dan Anne terlonjak. “Oh—hei! Pagi, Dan.”
        “Pagi, Danielle!” ujar Anne. Kali ini tatapan Anne sedikit mengintimidasi. Danielle sempat terhenyak, tetapi dia kembali tersenyum dan bersikap biasa.
        “Mau sarapan bersama?” ajak Danielle. Anne hanya diam, tidak pasti apa yang dia pikirkan. Raut wajah Anne sulit ditebak. Sedangkan Justin, Justin hanya menggaruk tengkuknya. Hal itu membuat Danielle mengernyit.
         “Ergh—aku sudah sarapan, Dan,” ujarnya jengah. “bersama Anne tadi. Maafkan aku,”

Danielle menghela nafas, kemudian tersenyum tipis.

          “Ehm...ya, tidak—masalah.” Ujar Danielle, tersenyum. Ketika merasa bahwa dia kikuk, Danielle menggigit bibirnya sembari mengetuk-ngetukkan jemarinya di meja kasir. Ah, sebaiknya dia pergi sebelum keadaan semakin canggung.
          “O—okay, aku akan bekerja dulu, kurasa. Bye,” Danielle langsung berlari menjauhi Justin dan Anne. Justin terlihat menggaruk kepala merasa bersalah, tetapi Anne tersenyum menatapnya dan mengusap punggungnya.

Ketika pulang bekerja, Justin kembali tidak pulang bersama Danielle.

         Semenjak itu, hari demi hari hubungan antara Danielle juga Justin merenggang. Berbeda bidang pekerjaan membuat mereka terpisah dan Justin lebih sering menghabiskan waktunya bersama Anne.  Justin selalu terlihat bercanda berdua bersama Anne dimanapun, bahkan terkadang Justin lupa untuk memanggil Danielle untuk bergabung bersamanya. Minggu pertama, Justin masih menegur Danielle, menyapanya, dan mengajaknya makan bersama, tetapi tidak pernah pulang bersama lagi. Minggu kedua, hanya sapaan lembut yang didapat oleh Danielle. Dan dari hari ke hari, komunikasi langsung maupun lewat telepon itu semakin berkurang. Danielle terkadang menyapa Justin, dan Justin terlihat seolah berada diantara dua perasaan : Merasa bersalah dan Malas berbicara. Karena, dia selalu menggaruk tengkuknya tiap kali Danielle menegurnya. Itu terlihat seperti canggung dan tak bisa atau mungkin tak mau mengobrol banyak. Seolah Danielle selalu membuatnya pusing ketika Danielle ingin berbicara banyak padanya.
          Justin selalu pulang dengan Anne.
          Pernah Danielle mendengar beberapa karyawan berbisik ketika dia berada di lorong yang bersebelahan dengan beberapa karyawan itu ketika tiga minggu telah berlalu dan hubungan antara dirinya dan Justin semakin memburuk.

          “Hei, Justin dan Danielle menjauh, bukan? Kudengar sekarang Justin dan Anne berpacaran,”

         Dan ketika mendengarnya, jantung Danielle seolah tersambar petir. Danielle menutup mulutnya agar tidak berteriak kaget. Dadanya mendadak sesak, dan wajahnya memanas. Dia tidak mempercayai itu, Danielle menggeleng dengan kuat. Menggeleng dengan cepat. Itu tak mungkin. Justin bukanlah orang yang seperti itu. Danielle mencintainya, sungguh. Dia mempunyai perasaan yang besar terhadap Justin.

Tetapi kenyataan itu tak dapat dipungkiri.

         Karena, suatu ketika Danielle memergoki mereka berciuman di parkiran depan Minimarket saat waktunya pulang kerja. Danielle yang waktu itu hendak mengambil sepedanya, terperangah kaget. Menutup mulutnya dengan kedua tangannya, tubuhnya nyaris jatuh kebelakang. Danielle memang sempat memegang sepedanya, tetapi ketika dia melihat kejadian itu, dia melepaskan genggamannya pada sepedanya dan itu menimbulkan bunyi. Dan itu disadari oleh Justin dan juga Anne. Saat itu Anne terlihat hanya menghela nafas dan menatap kearah Danielle dengan datar, sementara Justin membuang wajahnya dan tak ingin menatap Danielle. Saat itu Justin sangatlah malu. Setiap melihat Danielle, perasaan bersalahnya melesak keluar, tetapi saat bersama Anne, itu menyejukkan Justin dan perasaan Justin sangat senang. Anne benar-benar pandai mengambil hatinya yang sebenarnya bertahun-tahun menyukai Danielle secara diam-diam. Walaupun butuh waktu beberapa minggu bahkan beberapa bulan untuk Justin benar-benar jauh dari Danielle. Justin sangat merasa bersalah tetapi Danielle juga merasa bersalah jika mengganggunya.
           Dan saat itu, Danielle cepat-cepat pergi dan di perjalanan menuju kerumahnya dia berderaian air mata. Danielle saat itu menyimpulkan dengan jelassejelas-jelasnya bahwa Justin dan Anne memang berpacaran.

Dan semenjak itu, dua bulan kemudian, komunikasi itu benar-benar hilang seolah ditelan bumi.

          Demi Tuhan... Padahal Danielle sudah berteman dari kecil dengan Justin. Tetapi ini sulit... Justin selalu bersama Anne dan itu membuatnya tidak pernah ingat ataupun sempat menghabiskan waktu barang sedetik saja bersama Danielle. Danielle hanya berpikir, mungkin Anne selalu meminta Justin untuk menemaninya sepanjang waktu...

          Padahal Danielle ingin mengatakan sesuatu mengenai Anne yang diketahuinya kepada Justin...
          Tetapi Danielle takut Justin akan membencinya setelah itu. Danielle tidak ingin hubungan yang renggang ini malah semakin hari tumbuh jadi kebencian. Demi jagad raya, Danielle tidak menginginkannya.

Pada bulan ketiga, Danielle memutuskan untuk berusaha mengajak Justin berbicara dan memberitahu Justin tentang perasaannya dan juga apa yang dikeluhkannya tentang hubungan mereka akhir-akhir ini. Danielle juga ingin mengatakan apa yang ia tahu tentang Anne... Danielle hanya berharap semoga Justin tidak marah padanya dan akan percaya sekaligus bisa mengerti...



******
Pertengahan bulan ketiga.



          Danielle membuka pintu Minimarket dengan kencang dan gusar. Nafasnya terengah-engah. Dan kebetulan, orang yang dicarinya sudah ada didepannya, sedang berbincang-bincang dengan Anne—tepat dua langkah dari pintu. Dari tempat Danielle berdiri dengan nafas terengah-engahnya.

          “JUSTIN!”

Justin terlonjak.

        “Oh—hei, Danielle.” Danielle menghela nafas kecewa. Tidak biasanya Justin memanggilnya dengan sebutan Danielle. Tidak ingin membuang waktu, Danielle berlari mendekati Justin dan menarik lengannya, membuat Justin terbelalak dan tubuhnya seolah tertarik kuat kebelakang, mengikuti arah berlari Danielle. Anne hanya mengikuti mereka dari belakang, tanpa Danielle dan Justin menyadarinya.
         Danielle menarik Justin ke gudang lantai atas, yang terletak lumayan jauh dari ruang makan. Danielle menutup pintunya, lalu berhadapan dengan Justin yang meringis mengusap-usap lengannya yang terasa sakit karena Danielle menariknya.
         “Danielle what’s wrong with you!! It’s hurt!”
         Danielle menatap Justin dengan tajam, memasang perawakan keras di wajahnya, “What? So it’s hurt? Akan lebih sakit jika kau tak mendengarkanku!”
         “OKAY SO WHAT!!! APA YANG SEBENARNYA TERJADI DENGANMU?!!” teriak Justin.
        “Kau berpacaran dengannya? Anne?!”
       “Huh? Apa maksudmu? Aku bahkan ingin memberitahukan padamu bahwa aku akan menikah dengannya besok,” ujar Justin, dengan suara yang lumayan lantang karena mereka sedang berdebat keras. Kontan saja seolah tersengat listrik, Danielle terbelalak. Menikah? Lelucon apa lagi ini?
      “KAU GILA!! Justin, Anne—Anne...dia mempunyai suatu kelainan jiwa!”
       Justin ternganga, satu detik kemudian dia memprotes, “Kelainan jiwa? JAGA UCAPANMU, DANIELLE!! APA KAU INGIN MENGHANCURKAN PERNIKAHANKU? TIDAK AKAN ADA SATU ORANGPUN YANG AKAN PERCAYA DENGAN LELUCON SEPERTI ITU! KAU LIHAT, BUKAN? DIA ORANG YANG BAIK!”

Danielle merunduk, menggertakkan giginya dan mengeraskan rahang. Justin hanya tertawa dan menggeleng. Ya Tuhan, apa pria itu berpikir Danielle bersusah payah mengeluarkan emosi hanya untuk membuat lelucon?

          “AKU TAHU, JUSTIN! DIA ITU PERNAH MENIKAH SEBELUMNYA. DIA TRAUMA AKAN PERNIKAHAN KARENA DIA PERNAH DIKHIANATI! DAN MUNGKIN DIA AKAN MEMBUNUHMU JIKA DIA TAHU KAU AKAN MENIKAHINYA! AKU YAKIN KAU BELUM MEMBERITAHUNYA, RIGHT?”

          Justin menggeram kesal, “Shut up, Danielle! Kau hanya mencoba menghasutku! Mengapa kau menjadi seperti ini? Kau. Bukan. Danielle.”

Danielle terlonjak dan terperangah kaget. Sedangkan Justin langsung keluar dan menutup pintu gudang itu dengan hantaman kuat.

         Tanpa mereka sadari, Anne mendengarkan semuanya dan mendengarkan pasal Justin akan menikahinya. Ketika Justin keluar, Anne bersembunyi di gudang sebelah yang kebetulan tak terkunci.



******



         “Anne what’s wrong with you?!! ANNE!!”

Justin melangkah mundur, tubuhnya seolah kaku karena melihat Anne telah membawa sebilah pisau didepannya. Sebenarnya Justin tak mengerti apa yang telah terjadi, karena Justin hanya memenuhi panggilan Anne untuk mengantarnya pulang dan masuk sebentar kedalam rumahnya. Anne tinggal sendirian. Dan tiba-tiba Anne sudah menyodorkan pisau didepannya dengan tatapan datar tetapi mematikan.

         “ANNE!! PLEASE, IT’S ME! IT’S ME, JUSTIN!! WHAT ARE YOU DOING!!! ANNE, HONEY PLEASE!”

        “You better don’t be noisy,”  ujar Anne, semakin mendekat dengan pelan. “SHUT UP!!!!” teriak Anne kemudian. Justin terlonjak, Justin menabrak apapun yang ada dibelakangnya, terutama ketika tadi di meja ruang tamu, ia berdiri secara tiba-tiba dan gelas-gelas disana terhempas.
         “ANNE ARE YOU CRAZY HUH?!! WHAT DO YOU WANT, YOU WANNA KILL ME? NOW TELL ME WHAT’S WRONG WITH YOU!!!”
         Anne diam, hanya semakin mendekat dan mendekat. Dan Justin menelan ludahnya yang kering, bahkan bibirnya sangat kering. Justin merasa jantungnya bergemuruh, kakinya seperti seonggok Jelly. Justin mendengus, mencoba mengatur pernafasannya yang pendek-pendek dan sesak, lalu berlari keluar dan langsung menaiki sepedanya setelah sebelumnya dia menjatuhkan Anne, menarik pisau itu sekuat tenaganya. Justin adalah laki-laki dan tentu saja dia berusaha sekuat tenaga, dia memang mengakui bahwa Anne sangat kuat jika sedang dalam keadaan seperti itu!
         Justin mengendarai sepedanya dengan cepat dan langsung mencoba meredakan nafasnya. Dia merasa beruntung, Anne tidak memiliki kendaraan... Anne memang mencoba mengejarnya tetapi tidak berhasil. Justin langsung mengayuh secepat mungkin. Dan ketika berada dijalan, Justin menyadari sesuatu. Tidak mungkin ini terjadi tanpa suatu alasan.

Danielle benar.



******
5 Days Later



           Untuk beribu alasan, Justin sangat gelisah setiap harinya semenjak kejadian itu. Dan, rasa bersalahnya kepada Danielle sangatlah besar melebihi apapun. Justin terus mencoba menghubungi ponsel Danielle semenjak pulang dari rumah Anne lima hari yang lalu, tetapi selalu tak dapat terhubungi. Kemana Danielle menaruh ponselnya? Demi Tuhan, Danielle juga dalam lima hari ini tidak bekerja. Ketika Justin mendatanginya kerumahnya, rumahnya bahkan selalu tertutup. Keluarganya juga tidak ada. Danielle seolah menghilang begitu saja, dan seolah ditelan bumi.
           Dan sampai saat ini, detik ini juga, Justin masih tak bisa beralih dari handphone-nya, terus menghubungi nomer Danielle. Tidak mungkin dia menghilang begitu saja! Bahkan Justin belum meminta maaf padanya. Tidak ada petunjuk sedikitpun tentang dimana keberadaan Danielle. Handphone itu diremas oleh Justin disela nafasnya yang terasa memanas. Belum bisa dihubungi.
           Justin mendesah, melipat kedua bibirnya kedalam lalu kembali menelpon Danielle. Duduk dikursi dekat jendela rumahnya saja seolah duduk didalam penjara karena dia sangat gusar dan gelisah. Ini berterusan dan tak berhenti dari lima hari yang lalu. Ya Tuhan, semoga Danielle baik-baik saja!

Suara gemerusuk terdengar ditelinga Justin ketika harapannya nyaris saja hilang hari ini.

           Diangkat!

          Justin langsung menganga tak percaya, dan dengan secepat kilat langsung mendekatkan ponsel itu hingga sangat menempel ke telinganya. Justin berdecak girang, “Halo, Danielle—where are you?!!”
         “Apakah ini kau, Justin?”  Snap. Ini bukan suara Danielle... Ini—ini... Sepupu Danielle. Ya, suaranya seperti suara Liam, sepupu Danielle. Justin terhenyak ketika mendapati Liam-lah yang mengangkat teleponnya.
         “Ya, ini aku. Kau—Liam, right? Apakah Danielle ada disana?”

Suara gemerusuk adalah yang kembali terdengar oleh Justin. Liam diam sangat lama, dan itu membuat Justin mengernyit, nafasnya kembali memburu dengan cepat.

          “Liam?”

Liam masih diam. Hanya suara gemerusuk itulah yang terus terdengar din telinga Justin.

         “Liam?!! Apakah kau disana? Please, katakan padaku dimana Danielle,”
        “Liam where’s Danielle!!!”  bentak Justin. Terdengar suara helaan nafas dari seberang sana.
        “Danielle sudah meninggal dari lima hari yang lalu, Justin. Dia kecelakaan.”

         Sekumpulan petir seolah menyambar jantung Justin. Darahnya seolah berhenti berdesir didalam tubuhnya dan seluruh tubuhnya kaku, termasuk lidahnya. Danielle... APA YANG TERJADI?!! Justin menggeleng berkali-kali, ini pasti tidak mungkin! Ini lelucon—yah, Danielle suka bercanda, ‘kan? Ini lelucon!
         Lima hari yang lalu... Berarti Danielle kecelakaan setelah pulang bekerja? Karena Justin masih ada saat jam bekerja dan Danielle baik-baik saja. Ya Tuhan... Tidak! Tenggorokan Justin mendadak kering. Pria itu seolah lupa bagaimana caranya untuk berbicara. Demi Tuhan, sahabatnya yang ia cintai sekarang—

         “You lie,” lirih Justin. “YOU MUST LIE!!!!!” teriaknya.
         Terdengar nafas Liam. “I don’t, Justin... Mungkin akan lebih baik jika kau mengunjungi makamnya disini. Dia akan senang.”
        “No!! Danielle—oh Gosh...” Justin menggeleng tak percaya.

Kemudian, Liam membacakan alamatnya meskipun Justin hanya membisu. Setelah Liam membacakannya, ponsel Justin terjatuh dari genggamannya dan Justin terseret duduk dilantai. Dia menenggelamkan wajahnya pada kedua tangannya dan berteriak frustasi. Sahabatnya dari kecil! Dan sungguh, dia menyayangi Danielle...
        Justin menangis.

Menyadari itu hanya akan membuang waktu, Justin segera mengunjungi makam Danielle dengan mengikuti alamat yang dibacakan Liam dengan gusar. Dia bahkan nyaris menabrak beberapa kendaraan didalam perjalanannya.

        Ketika sampai pada tempat pemakaman itu, Justin langsung berlari turun. Justin juga diberitahu dimana letak makamnya. Justin terus berlari hingga tersandung-sandung, sembari terus mengeluarkan air mata. Dan ketika sampai didekat makam itu... Langkah Justin melambat. Ukiran nama Danielle memang benar-benar ada disana...
        Justin menggeleng dan merasakan sesak ketika melihat ukiran nama itu. Dia terduduk disamping makam itu dan kepalanya tertunduk hingga menempel pada tanah. Makam ini belum diukir... Justin terduduk pada rerumputan hijau disana. Justin mengerang sambil terisak.
        “No, Danielle... Aku belum meminta maaf denganmu... Please, don’t you kidding me? Danielle I see you! Please... Kau dengar aku, ‘kan? Aku sahabatmu yang sempat meninggalkanmu karena seseorang yang tak berguna... Aku adalah sahabatmu yang sempat terlupa padamu dan aku menyadarinya!  Danielle, ada satu kalimat yang belum sempat dan belum pernah bisa aku ucapkan kepadamu... Tapi kurasa seharusnya sekarang kau tahu meski aku terlambat... Aku bahkan sangat terlambat, Danielle... Aku tak menyelamatkanmu... Aku sibuk pada urusanku dan aku tahu itu... I love you, Dan...”
        “DAN!!!!!!” 
        "DAN I KNOW YOU HEAR ME!!! DAN PLEASE..."


        “I love you too.”

Justin terlonjak. Kontan jantungnya seolah berhenti berdegup saat itu juga. Justin berbalik dan matanya terbelalak. Justin langsung berdiri dan mendekatinya dengan spontan.

         “DANIELLE!!!!!” teriak Justin, dan langsung memeluk tubuh Danielle dengan seerat mungkin seolah Danielle akan pergi selama-lamanya. Danielle merasa sesak, sejujurnya, tetapi rasa ingin menangis itu tak bisa ia tahan. Danielle telah mengeluarkan titik-titik air mata itu ketika Justin berbicara banyak kepada makam palsu-nya. Liam ada disampingnya. Dia-lah yang merencanakan ini semua bersama Liam... Tentunya dengan meminta sedikit bantuan dari keluarganya untuk selalu menutup pintu rumah ketika jam pagi dan sore hingga malam dengan erat sehingga terlihat seolah-olah tidak berpenghuni. Karena, Justin pasti mencoba berkunjung dan Danielle tahu jam-jam berapa Justin hanya bisa mengunjunginya.
         Danielle diam ketika Justin memeluknya semakin erat. Liam yang memandangi mereka hanya tersenyum.
         “Kau hidup? Oh Tuhan—Danielle... Kau benar-benar ada dihadapanku! I love you, Dan, I love you!”
        “I love you too, Justin...”
       “Kumohon maafkan aku... Aku tahu mungkin aku tak bisa dimaafkan tetapi kumohon maafkan aku, Dan... And please—jangan membuat lelucon seperti ini lagi, oke? Aku akan memiliki penyakit jantung jika aku mengalami seperti ini lagi.”
       Danielle terkekeh ketika dia memejamkan matanya dengan kuat, memikirkan apapun yang terucap oleh Justin.
       “Ya, Justin...Aku hanya bisa berharap agar kau tak mengulanginya lagi... Dan kumohon janganlah memiliki penyakit jantung.” ujar Danielle, satu detik kemudian mereka terkekeh meski pipi mereka masih sama-sama lembab.
       “Ya, Dan. Pasti!”











END

Tidak ada komentar: