dina's storylineʕ•ᴥ•ʔ: [FANFICTION] The Difference (special ramadhan)

#FANFIksi Refresh Author Stuff buddies

[FANFICTION] The Difference (special ramadhan)


Title : The Difference

Genre : Religy,Alternate Universe,Sad Ending

Length : OneShoot (5.910 Words)

Casts :
Justin Bieber as Himself
Yourself as Your Name (YN)
Your Father as Himself
Your Mother as Herself
Patricia Mallete as Herself
Jeremy Bieber as Himself

Warning : this just jd is repost credit to: VIOLINITA

Big Warning :
 Please, jangan munculin konflik karna JD ini. gue udah bikin ini JD sedemikian rupa untuk TIDAK menyinggung Agama manapun. dan terima kasih untuk yg mengerti :) intinya, semua Agama benar! and please give me feedback,comment.no siders aka silent riders.pembaca gelap bertaubatlah kau :D

please enjoy :)

Now Playing :
Hendra Abeth - Perbedaan
Marcell - Peri Cintaku

**

“Untuk Tuhan yg kini membaca kisah kami...”—Justin Bieber-Your Name

**
(mohon BIG WARNING dibagian atas dibaca terlebih dulu. Thanks!)
~Your Name P.O.V~


Aku menggeleng-geleng pelan memperhatikan kedua orang tuaku sibuk mengutak-atik isi kopor mereka. Sementara aku hanya duduk karna bingung apa yg harus kulakukan. Terang saja, rumah ini sangat berantakan seperti sudah seabad tidak pernah ditempati. Meskipun interior dan bangunannya masih terlihat baru. Namun kau akan terkejut ketika melihat dalamnya yg penuh dengan debu dan sarang laba-laba dimana-mana. Aku sendiri merasa kurang nyaman sebenarnya. Tapi mau bagaimana lagi? Ayahku dipindah tugaskan dari tempat tinggal kami semula di Dubai ke New York. Entah untuk berapa lama kami disini. Tapi melihat bagaimana Bos ayahku yg berani menjamin pendidikanku selama disini, sudah dapat kupastikan bahwa kami akan lama berada di New York. Ini pasti akan memunculkan kecanggungan tersendiri bagiku dan juga keluarga kecilku yg hanya terdiri dari 3 orang ini. Tak mengapa, kami bahagia. Apalagi ketika kulihat ayah dan ibu saling bercanda-canda meski dalam keadaan bersih-bersih rumah. Aku pun ikut tertawa lalu beranjak dan mengambil sebuah alat pembersih langit-langit ruangan. Kami bertiga pun saling bekerja sama membersihkan rumah diselingi tawa dan canda.

Hari-hari pertamaku di New York berjalan lancar. Tidak ada hambatan apapun karna sudah selama dua hari disini, aku tidak sama sekali keluar rumah. Ibuku tetap bersosialisasi dengan tetangga-tetangga baru. Ayahku ke kantor dan aku hanya berdiam diri memandangi kota New York dari jendela kamarku dilantai dua. Darisini cukup bagiku untuk melihat siang dan malam kota yg penuh keindahan ini. Memang, perlu aku akui perbedaan kesejukannya. Biar begitu, aku masih merasa canggung. Ditambah lagi dengan pikiranku yg akan mulai bersekolah minggu depan. Aku khawatir tidak diterima dengan baik disekolah baruku.

"sayang, kau mau sampai kapan mengurung diri dikamar terus? Coba keluar dan nikmati sore hari di New York." ujar ibu yg entah sejak kapan, kulihat ia sudah berdiri diambang pintu kamarku.

Aku menoleh kearahnya lalu memasang wajah murung. "aku takut, Umi." lirihku.

"apa yg kau takuti? Orang-orang New York itu sangat ramah-ramah dan baik hati. Ada taman yg bagus sekali tidak jauh darisini. Coba kau kesana. Pasti kau akan suka." celoteh ibuku seraya merapikan sajadah dan mukena yg baru saja kukenakan untuk sholat Asar tadi.

Aku terdiam sesaat lalu memandangi lagi suasana kota New York sore hari dari jendela. "hhm, kurasa aku akan keluar sebentar. Aku pamit, Umi. Assalamualaikum." pamitku lalu mencium tangan ibu kemudian berjalan keluar rumah. Ini akan jadi kesan pertamaku keluar rumah di tempat yg baru.

Kaki-kaki jenjangku yg tertutup rok panjang dan menggunakan stocking serta slippers dialas kakiku terus bergerak menyelusuri jalanan kota New York. Jari-jariku asyik bermain didepan perutku untuk mengusir kegundahanku. Kadang pandanganku melihat kekanan atau kekiri. Tiap berpapasan dengan orang-orang yg melintas, mereka semua tersenyum dan aku balas dengan tersenyum pula. Ibu benar. Orang-orang disini ternyata ramah dan baik. Tidak ada yg kukhawatirkan sebenarnya. Aku pun bernafas lega. Kuhentikan sejenak langkahku lalu membenarkan letak hijab-ku dan kemudian melangkah lagi dengan percaya diri.

"hai ayo. Three points three points!!!" seru sebuah suara yg berasal dari sekumpulan orang yg sedang bermain basket. Aku berhenti sesaat dan kulihat permainan basket mereka. Kadang kulihat mereka berseru semangat. Sangat menyenangkan. Namun tiba-tiba saja tanpa kuduga, bola basket itu keluar dari lapangan dan terlempar mengenai kepalaku dan membuat tubuhku jatuh terduduk.

"aaw!!!" rintihku sambil memegangi kepalaku yg serasa sedikit pusing. Berikutnya kudengar suara langkah kaki mendekat dan berhenti didepanku. Yg terlihat olehku hanya sebuah sepatu adidas putih yg dikenainya. Setelah itu, giliran sebuah uluran tangan yg menjulur kearahku. Aku pun mendongak dan bertemu tatap dengan kedua manik mata hazzle yg sangat indah.

"aku yg melemparkan bolanya. Maaf yah! Ayo kubantu berdiri." ujarnya bernada sopan. Benar-benar orang New York itu sangat ramah dan baik. Seharusnya tidak ada yg kukhawatirkan untuk berada disini.

"tidak usah, terima kasih. Aku bisa bangun sendiri." jawabku lalu berusaha berdiri. Tapi orang itu justru masih tetap ingin membantuku. Ia menyentuh lenganku dan secepat mungkin segera aku singkirkan tangannya dari tubuhku. "eh, maaf!" ucapku merasa sudah terlalu kasar padanya.

"aku yg seharusnya minta maaf." Aku tersenyum. Kini tubuhku sudah mampu berdiri sempurna berhadapan dengannya. "kau orang baru disini? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya." tanyanya kemudian.

Aku mengangguk. "rumahku diujung jalan sini." jawabku sambil tanganku menunjuk pada suatu arah diujung jalan.

"sepertinya aku bisa mampir. Tidak terlalu jauh darisini, kan? Oh iya, namaku Justin." ucap pria yg ternyata bernama Justin itu sambil tangannya mengulur untuk mengajakku berjabat tangan.

Aku tidak menyambut ajakannya. Aku ketupkan kedua tanganku didepan dada lalu sedikit merundukan tubuhku kemudian kutegakan lagi. "namaku YN." jawabku.

"oh. Baiklah, YN!" Justin tersipu malu sambil menurunkan lagi tangannya yg tidak kusambut. Kemudian ia menggaruk-garuk tengkuknya.

"kau boleh mampir kerumahku kapanpun kau mau, Justin."

"benarkah? Terima kasih."

"eh Justin, lama sekali mengambil bola dan minta maafnya." seru sebuah suara dari tengah lapangan. Justin menoleh kearah temannya itu dan mengacungkan ibu jarinya.

Sementara aku melirik jam tanganku dan terpekik kaget melihat angka disana. "astagfirullah." pekikku.

"ada apa?" tanya Justin heran.

"aku lupa kalau tidak ada suara azan disini. Aku hampir saja meninggalkan sholat Maghrib-ku. Aku harus segera pulang. Bye Justin."

"eh YN, wait!" seru Justin yg kemudian membuatku menoleh. "kalau tempat beribadah untuk umat Muslim, aku tau yg didekat sini."

Aku tersenyum sumringah. "bisa kau tunjukan padaku?" pintaku.

Justin mengangguk lalu meraih bola basketnya dan melemparkannya pada temannya dilapangan. Kemudian ia meraih tas dan jaketnya. "kalian lanjutkan saja tanpa aku." pesan Justin pada teman-temannya. Lantas kami pun berjalan bersama sampai tibalah kami didepan sebuah Masjid besar yg ternyata tidak jauh dari tempat tinggalku. Aku begitu terpukau memandangi Masjid yg sangat terawat ini. Sangat tidak menyangka ternyata ditempat yg kupikir tidak akan kutemukan Masjid, tapi ternyata aku salah. Bahkan Masjid ini sangat besar dan terawat baik. Terlihat bagaimana orang-orang mengelolanya dengan begitu sempurna.

"kenapa hanya diam saja? Katanya mau beribadah?" tanya Justin memecahkan lamunanku yg sedang mengagumi Masjid ini.

"aku sedikit tidak percaya kalau ada Masjid disini." jawabku.

Justin terkekeh pelan. "kau pikir New York tidak punya Masjid begitu? Meski tidak banyak, tapi kau masih bisa menemukannya beberapa. Salah satunya disini. Sengaja dibangun untuk menghormati penduduk yg Muslim. Pengunjung Masjid ini juga tidak sedikit. Cepat masuk sana." ujar Justin menjelaskan.

Aku mengangguk kemudian melepaskan alas kakiku kemudian berjalan memasuki tempat Wudhu disamping bangunan. Kulihat Justin masih disana. Memilih sebuah kursi panjang ditaman milik Masjid ini untuk tempat duduknya. Kupikir ia akan pergi, tapi ternyata tidak. Justin menungguku disana. Bahkan sampai aku selesai beribadah pun, kulihat Justin masih terduduk ditempat yg sama. Aku tersenyum lalu menghampirinya.

"kupikir kau sudah pergi." ujarku membuka percakapan.

"aku khawatir kau lupa jalan pulang. Jadi aku menunggumu saja." jawabnya.

"terima kasih, yah! Tapi sepertinya aku ingat. Oh iya, aku suka Masjid ini. Sangat nyaman dan orang-orang yg bertemu didalam denganku juga ramah-ramah. Aku pasti akan selalu beribadah disini. Terima kasih sudah menunjukan Masjid ini padaku." ucapku.

"kau terlalu banyak mengucapkan terima kasih. Ayo kuantar pulang." seru Justin mempersilahkanku untuk jalan lebih dulu. Setelah itu ia berjalan mensejajarkan posisinya disebelahku. Sepanjang perjalanan, kami membicarakan banyak hal. Aku bercerita tentang kepindahanku dari Dubai atas tuntutan pekerjaan ayahku. Kemudian Justin juga bercerita tentang keluarganya yg sama harmonisnya dengan keluargaku. Ia berasal dari keluarga kristiani yg taat pada agamanya. Aku pun melihat Justin seperti itu. Ia memang terlihat anak yg baik-baik dan taat beribadah. Dan setelah pembicaraan kami menjuru kearah tentang pendidikan, aku terkejut karna rupanya Justin bersekolah ditempat yg akan menjadi sekolahku nanti. Ini akan menyenangkan. Aku sudah lebih dulu memiliki teman sebelum mulai aktif sekolah senin nanti. Justin pun sangat mengasyikan. Ia mampu membuatku tertawa dan merasa nyaman hanya dalam waktu beberapa jam saja ketika mengenalnya. Tanpa terasa, perjalanan kami pun terhenti karna kami sudah tiba didepan pekarangan rumahku. Kami pun berpisah. Namun tanpa sangka bahwa setelahnya, Justin sudah terlanjur melekat dalam pikiranku. Ketika mengingatnya, aku tersenyum.


~Justin Bieber P.O.V~


Aku membalikan lagi tubuhku. Semula miring ke kanan kini tubuhku terbaring miring ke kiri. Kedua mataku pun mencoba untuk terpejam. Tapi ternyata tidak sampai 5 menit, aku membuka lagi mataku lalu berbalik miring ke kanan. Begitu seterusnya sampai akhirnya aku gusar dan akhirnya terduduk di atas ranjang. Ini gila. Aku tidak bisa melepaskan segala ingatanku tentang gadis yg baru kukenal beberapa jam lalu. Dia manis. Maksudku, aku suka dengan caranya kami berkenalan. Sungguh, aku baru pertama kali dibuat speechless seperti tadi. Tampangku pasti konyol sekali ketika jabatan tanganku tidak disambutnya. Benar, pasti aku lupa bahwa ia seorang gadis Muslim. Kau yg kaum pria tidak bisa menyentuh kaum wanita Muslimah jika kau bukan suaminya atau saudaranya. Aku sudah lama tau tentang itu. Tapi sial, aku gugup dihadapannya tadi hingga semuanya lenyap. Dan sekarang, aku tidak bisa lupa bagaimana ia tersenyum dan bersikap. Itu benar-benar manis. Sangat berbeda dengan gadis-gadis yg pernah kutemui sebelumnya. Ketika kupejamkan mata dan kulihat bayangannya, maka akupun tersenyum.

Hari senin yg kutunggu pun akhirnya datang. Jika biasanya aku selalu bermalas-malasan kesekolah. Berbeda di awal minggu ini. Aku ingat YN pernah mengatakan bahwa hari ini akan jadi hari pertamanya kesekolah. Selama ini aku hanya sering mengambil alibi lewat depan rumahnya hanya untuk melihat YN atau lewat Masjid tempat ia biasa beribadah. Tapi itu belum cukup. Dan Senin ini, akan kubayar semua rasa rinduku pada gadis itu.

Aku menyandarkan tubuhku pada kap mobil milikku yg sudah terparkir sempurna di tepi lapangan sekolahku. Sementara pandanganku tertuju pada gerbang sekolah untuk menunggu YN datang. Aku memang sengaja datang pagi-pagi kesekolah untuk memastikan bahwa YN benar-benar bersekolah disini. Tiap sapaan dari para gadis-gadis yg lewat didepanku, aku abaikan begitu saja. Dan ketika melihat YN turun dari mobil yg mengantarkannya, aku tersenyum senang bukan main. Aku pun mengambil langkah cepat untuk menghampirinya.

"hai YN!" seruku memanggilnya. Langkahnya pun terhenti lalu ia menoleh kearahku dan tersenyum. Benar, ia sangat manis dengan seragam berlengan panjang dan longgar ditubuhnya. Dipadu dengan rok span yg juga panjang menutupi kakinya. Tidak ketinggalan sebuah hijab putih yg menutupi rambutnya. Meski tidak semodis gadis lain disekolah ini, tapi aku suka dengan daya tarik tersendiri ia miliki.

"hai Justin. Tidak menyangka bahwa kau orang pertama yg kulihat disekolah baruku." ujarnya.

Aku menunduk lantas tersenyum malu. Itu kalimat sederhana tapi entah kenapa mampu bermain-main cukup lama dikepalaku. Ah, mungkin ini hanya aku saja yg menganggapnya berlebihan. "kau berharap bukan aku yg pertama kali kau temui disini?"

"ah bukan begitu. Justru bagus karna kita sudah saling kenal. Kecangguanganku berkurang karna itu. Oh iya, kau tau ruang kepala sekolahnya?"

"tentu. Ayo kuantar. Dan aku akan jadi tour guide-mu selama disini." ucapku menawarkan diri. Kulihat YN terkekeh. Kemudian kami bersama-sama menuju ruang kepala sekolah. Entah kebetulan atau apa, ternyata YN ditempatkan dikelas yg sama denganku. Ini seperti sebuah kesenangan tersendiri bagiku. Maka kuajak ia langsung ke kelas dan kusingkirkan tas milik temanku disebelahku. Kusiapkan kursi itu untuk YN.

"eh Justin, apa-apaan ini?" protes Mark, orang yg semula duduk denganku. Ia merunduk meraih tasnya yg tadi kulemparkan kesembarang tempat.

"masih banyak kursi kosong lainnya kan, Mark!" tukasku seraya mengedipkan sebelah mataku padanya. Ia mengerti meski masih kulihat raut kekesalan diwajahnya. Setelah itu, ia pun memilih kursi lain. Sementara aku dan YN makin dekat dengan ini. Aku tidak tau harus mulai darimana untuk mengtakannya, tapi aku sungguh-sungguh bahwa ini pasti karna cinta. Aku belum pernah merasakan hal yg seserius ini pada gadis manapun yg dekat denganku. Berbeda saat bersama YN. Aku begitu bahagia berada disisinya. Dan aku tau ini memang cinta. Aku mencintainya!

Hari-hari perkenalanku dengan YN berlalu. Ini sudah tidak pantas lagi kusebut sebuah perkenalan. Karna ternyata kami begitu akrab dan kusebut ini pertemanan. Sebagai awal, aku memang hanya berani untuk menyebutkan itu. Aku khawatir YN tidak memiliki perasaan yg sama denganku.

"melamun lagi, Justin!" sungut YN sambil melambai-lambaikan tangannya didepan wajahku.

Aku pun tersadar dari lamunanku yg sedang memperhatikannya. Sore ini, kami sedang ditaman dekat rumahnya mengerjakan PR bersama. YN bilang, ia masih butuh bantuanku untuk mengejar ketertinggalan pelajaran. Dengan sangat senang hati, aku menerimanya karna itu berarti akan ada waktu tambahan untuk bersamanya diluar jam sekolah. "eh i-iya, maaf!" ucapku gugup. "baiklah, apa masih ada yg belum kau mengerti?" tanyaku sambil sok sibuk membolak-balikan buku ditanganku. Padahal sesekali aku mencuri pandang kearahnya.

"iya. Aku kurang mengerti dengan rumus fisika yg ini." jawab YN sambil menunjukan padaku rumus yg dimaksud didalam bukunya.

Aku memiringkan wajahku sedikit untuk melihat rumus itu. "oh ini. Jadi seperti ini." aku kembali menjelaskan sambil tanganku mencoret-coret di buku lainnya. Sementara itu YN mengangguk-angguk mengerti mendengar penjelasanku. "kau sudah mengerti sekarang?" tanyaku diakhir penjelasanku.

"iya. Ternyata jauh lebih mudah jika menggunakan cara belajarmu. Selain baik, ramah ternyata kau pintar juga, yah!" pujinya padaku yg membuatku tersipu.

"ah kau bisa saja, YN!" ucapku malu-malu.

"oh iya, hari Minggu nanti kau ada waktu tidak? Aku ingin kau mengajakku jalan-jalan disekitar New York agar aku lebih banyak tau tentang kota ini." pinta YN yg mana mungkin bisa untuk ku tolak.

"tentu saja bisa. Hhm, tapi tidak apa kan kalau sebelum itu aku harus ke Gereja dulu untuk beribadah?"

"sama sekali tidak masalah. Aku akan menunggumu." jawab YN tegas.


~Your Name P.O.V~


Setelah merapikan tataan pada hijab-ku, maka pagi itu pun aku segera pamit pada ayah dan ibuku untuk pergi. Minggu ini sesuai yg sudah direncanakan, Justin akan mengajakku ke beberapa tempat wisata di New York. Tujuanku hanya untuk lebih mengenal tempat yg sudah hampir satu bulan ini kusinggahi. Sudah hampir satu bulan juga aku mengenal pria bernama Justin itu. Ia memang sangat baik. Terlebih untuk membantuku dalam berbagai kesulitan belajar karna ketertinggalan pelajaranku. Karna ternyata berbeda jauh kurikulum pelajaran disekolah yg dulu dengan yg sekarang. Tapi itu semua tidak masalah ketika aku ingat bahwa ada Justin yg selalu siap membantuku.

Pagi ini, diawali dengan aku yg terduduk disebuah kursi panjang yg terdapat di depan sebuah bangunan besar dengan suara lonceng yg terdengar sangat syahdu. Justin sedang didalam sana untuk menjalankan ibadahnya. Sedangkan aku menunggunya disini. Lucu ketika mengingat bahwa toleransi diantara kami begitulah kuat. Ketika waktuku yg harus beribadah, maka Justin yg akan menungguku disebuah kursi yg berada didepan Masjid. Dan ketika Justin yg harus menjalankan ibadahnya, giliranku yg menunggunya disebuah kursi yg juga ada didepan Gereja. Kami berteman dan kami berbeda, tapi kami sama-sama menghormati itu. Justin menghormati Agama-ku. Ia tidak pernah mencoba menyentuhku karna ia tau itu Haram di Agama-ku. Dan aku juga tidak pernah melakukan apapun yg Haram di Agama-nya.

"terlalu lama, yah?" tanya Justin yg entah sejak kapan kini ia berada didepanku seraya membawa sebuah Kitab ditangannya.

Aku pun segera berdiri. "tidak. Aku masih cukup mampu menunggu lagi." jawabku sekenanya saja.

"kalau begitu seharusnya aku lebih lama lagi didalam tadi." sungut Justin mencandai. Aku pun terkekeh geli. "eh sudah, ayo kita pergi sekarang. Sebagai permulaan, bagaimana kalau aku menunjukanmu air terjun yg wajib kau datangi ketika di New York."

"sepertinya menyenangkan. Ayo kita kesana!" seruku bersemangat. Lantas berjalan lebih dulu didepan Justin. Sementara Justin berjalan sangat pelan dibelakangku sambil tertawa-tawa. Aku pun berhenti dan berbalik badan. "kenapa lama sekali? Ayo cepat, aku kan sudah tidak sabar!" desakku.

"isi bensinnya dulu." tukas Justin menggoda.

"baiklah baik, mau berapa liter?"

"eh bukan bensin sungguhan." elaknya.

"lalu apa?" tanyaku tidak mengerti.

"ucapkan, Justin Bieber yg tampan, baik hati dan tidak sombong, terima kasih karna kau baik sekali padaku. Aku YN mengakui pada dunia bahwa kau memang sangat sangat sangat baik." ucap Justin. Aku membelalakan mataku karna tidak percaya karna harus mengatakan itu. "eh ayo cepat katakan! Kenapa diam saja?" desak Justin.

Aku memanyunkan bibirku. Namun pada akhirnya, akupun mengalah. "yah baiklah. Justin Bieber yg tampan, baik hati dan tidak sombong, terima kasih karna kau sudah sangat baik sekali padaku. Aku YN mengakui pada dunia bahwa kau memang sangat sangat sangat baik. Sudah, puas kau?" sungutku.

Justin tersenyum lebar lalu berjalan cepat menghampiriku. "ayo kita jalan sekarang, Tuan Puteri!" ujar Justin bak seorang pelayan-pelayan kerajaan. Aku tersipu lantas kutundukan wajahku yg pasti sudah sangat memerah ini.

Kami pun tiba disebuah tempat wisata air terjun yg sangat tinggi disini. Aku bisa melihat air-airnya yg berjatuhan dan menciptakan suara yg khas. Jika lebih dekat, maka aku bisa merasakan cipratan airnya yg sejuk. Benar-benar tempat yg mengagumkan. Pantas saja banyak pengunjung yg berdatangan kesini. Hanya sekedar berfoto-foto, wisata bersama keluarga atau bahkan ada sepasang kekasih yg bermesraan. Aku benar-benar suka tempat ini. Tidak habis senyumku untuk mengagumi keindahannya.

"sepertinya kau suka sekali, yah?" tanya Justin mengalihkan perhatianku. Aku hampir saja lupa akan kehadirannya.

"ini benar-benar indah, Justin! Kau lihat dari sudut mananya jika kesini?"

"hhm....dari sudut keagungan ciptaan Tuhan." jawab Justin mantap. Aku tersenyum lalu kupandangi Justin yg ternyata salah satu ciptaan Tuhan yg juga sama indahnya dengan tempat ini. "tiap datang kesini, akan membuka mataku betapa indahnya ciptaan Tuhan itu. Kau sadar, YN?"

Aku mengangguk. "Allah memang menakjubkan." jawabku.

Justin menghadap kearahku kemudian menatap dalam ke manik mataku. Entah kenapa aku merasa tatapannya kali ini sangat berbeda. Maksudku, kali ini terlihat menunjukan keseriusan mendalam. Dan aku menunggu sampai Justin membuka percakapan yg baru. "YN?" serunya pelan.

"iya." sahutku.

"aku tidak tau apakah ini benar atau salah. Sekalinya pun ini disalahkan, aku sendiri tidak tau harus berbuat apa untuk memadamkannya."

"aku tidak mengerti."

"a-aku....aku mencintaimu, YN!" ungkap Justin. Aku membelalakan mataku. Seketika dentuman dijantungku mengeras. Aku tidak tau harus menanggapi ini dengan kalimat apa lagi. "jangan salah paham. Aku bukannya memintamu untuk melakukan hal-hal yg dilarang dalam Agama-mu. Justru ini pertama kalinya aku sangat merasa yakin pada perasaanku. Aku mencintaimu karna Tuhan-ku. Dan aku ingin bisa menyentuhmu dalam suatu kehalalan di Agama-mu. Kau mengerti maksudku, kan?"

Aku terdiam sesaat dengan mata yg tidak juga berkedip. "aku masih tidak mengerti, Justin!"

"aku ingin membawa orang tuaku kerumahmu dan memperkenalkannya pada orang tuamu. Apa istilah itu didalam Islam?" tanyanya.

"Ta'aruf?"

"yah itu maksudku. Aku ingin—“

"kau sadar apa yg kau katakan itu, Justin? Maksudku, kau sadar bahwa ada tebing tinggi diantara kita. Ini tentang—“

"perbedaan. Aku sadar, YN! Aku ingin mencintaimu dengan seluruh ketaatanku pada Agama-ku. Dan kau tidak perlu khawatir. Hanya cukup cintai aku dengan seluruh ketaatanmu pada Agama-mu. Kau mau, kan?"

Aku terdiam lagi. Menatap Justin dengan tatapan mendalam. Kucari sebuah kesungguhan dan ketulusan dimatanya. Itu semua memang terlihat. Dari bagaimana cara ia menatapku lalu mengatakan niatnya, kesungguhan dan ketulusan itu sudah sangat jelas.

Suara bel pintu terdengar beberapa kali berbunyi. Ibuku yg saat itu tengah berada di dapur langsung berjalan membukanya. Sementara ayah terlihat langsung melipat koran yg dibacanya kemudian mengekori ibuku. Aku masih terduduk diruang tamu dan hanya melihat darisini.

"pagi Om, pagi Tante!" aku menoleh dengan cepat kearah pintu karna merasa sangat mengenal suara itu. Itu suara Justin. Aku bergegas menghampiri mereka.

"iya pagi. Kau siapa?" tanya ibuku.

"Justin?" seruku. Sontak perhatian mereka bertiga tertuju padaku.

"anak ini temanmu, YN?" tanya ayahku menunjuk pada tubuh Justin.

"iya Abi. Justin ini teman disekolah YN." jawabku.

"oh kalau begitu, ayo silahkan masuk." ujar ibu mempersilahkan.

"hhm sebentar, Tante! Sebenarnya, saya kesini juga mengajak seseorang yg ingin saya kenalkan pada kalian berdua."

"siapa?" tanya ibuku penasaran. Aku pun mengerutkan keningku karna heran. Setelah itu Justin menuju mobilnya dan meminta seseorang didalam sana untuk keluar. Ternyata yg ia bawa saat itu adalah kedua orang tuanya. Aku tertegun sesaat karna tidak menyangka bahwa Justin sangat serius dengan kata-katanya minggu lalu ketika di air terjun.

"siapa mereka, Justin?" tanya ibuku.

"Om, Tante, ini adalah orang tuaku." jawab Justin sopan. Kulihat kedua orang tua Justin saling menatap heran. Begitu juga dengan kedua orang tuaku. Sepertinya mereka sudah lebih dulu mengerti maksud Justin. Dan aku bisa mencium bau ketidaksukaan dari orang tuaku maupun dari orang tua Justin. "maksud saya membawa kedua orang tua saya kehadapan Om dan Tante, itu karna saya ingin menunjukan keseriusan saya pada YN. Saya ingin men-" Justin menghentikan kalimatnya sesaat. Mungkin ia sedang mengingat-ingat sebuah istilah. Setelah kulihat ia menghela nafas panjang, ia pun meneruskan. "saya ingin men-Ta'aruf-kan YN." ucapnya tegas.

Ibu dan Ayahku saling menatap. Begitu pula kedua orang tua Justin. "Justin, kalau saja Mom tau bahwa wanita yg ingin kau lamar adalah wanita yg berasal dari keluarga yg berbeda keyakinan dengan kita, pasti Mom harus berpikir panjang untuk ini." tukas ibunya Justin.

"ibumu benar, Justin! Kami harap kau mengerti tentang perbedaan keyakinan diantara keluargamu dan keluarga kami. Jika kau dan YN hanya sekedar berteman, kami sama sekali tidak mempermasalahkan itu. Tapi ini sama sekali tidak mungkin." timpal ayahku.

"tapi Om, saya tulus! Saya mencintai YN dan sama sekali tidak mempermasalahkan perbedaan diantara kami. Saya menghargai keyakinannya dan bersumpah tidak akan pernah mempengaruhi YN untuk ikut dalam keyakinan saya. Begitupula dengan YN. Kami sudah saling berjanji untuk teguh pada keyakinan kami masing-masing." tegas Justin.

"Justin, kau jangan berpikiran dangkal! Jika diteruskan, kau tidak memikirkan nasib anak-anak kalian nanti, hah? Jangan konyol, Justin! Yg berbeda selamanya akan berbeda. Kalian tidak bisa disatukan." tukas ayahnya Justin sedikit membentak.

"maaf yah, Justin! Lebih baik kalian saling menjauh mulai dari sekarang untuk mencegah hal-hal yg tidak diinginkan. Kami percaya, kalian akan sama-sama menemukan jalan kalian masing-masing." ucap ibuku yg kemudian menutup pintu rumah. Sementara sedari tadi, aku hanya bisa menundukan kepalaku dan menangis.

"YN, untuk kebaikan kalian, lebih baik kau jangan temui laki-laki itu lagi. Kau mengerti, kan?" ujar ayah. Aku masih terdiam dengan kepala yg tertunduk menyembunyikan air mataku. Tapi biarpun begitu, aku tau orang tuaku sudah mengetahui bahwa aku menangis.

"kau dengarkan kata Abi-mu yah, sayang! Kami berdua, Umi dan Abi inginkan yg terbaik untukmu." timpal ibuku. Aku pun akhirnya mengangguk pelan meski dengan kepala yg masih tertunduk. Setelah itu, aku beranjak memasuki kamarku. Kutuju jendela dan kulihat keluar. Rupanya masih ada Justin yg berdiri didepan rumahku. Ia tersenyum melihatku meski wajahnya terlihat sembab seperti habis menangis. Aku pun balas tersenyum dengan air mata yg masih berlinangan. Tak lama kemudian, terdengar bunyi 'beep' pada ponselku. Aku meraihnya dan membaca pesan dari Justin disana.

jangan menangis, YN! Aku tidak apa-apa dan kau harus percaya bahwa kita akan baik-baik saja. Aku tidak akan menyerah. Aku mencintaimu. Perbedaan bukan tebing tinggi yg memisahkan kita. Tapi perbedaan adalah jalan kita untuk bersama. Tunggu aku diujung jalan itu

Aku tersenyum usai membaca pesan singkat itu. Kemudian kulihat lagi keluar jendela. Kuhapus air mataku lalu aku tersenyum pada Justin disana. Kutunjukan padanya bahwa aku baik-baik saja. Ia kuat. Maka aku harus sekuat ia untuk bisa melewati ini semua.


Tlah lama sudah kau dan aku
Jalani berdua lewati bersama
Kisah cinta ini...

Tak ada restu untuk kita
Selama ini, karna kita berbeda
Tak akan pernah sama...

Inilah cinta yg berbatas perbedaan
Yg membuat jarak diantara kita
Meski keyakinan ini tak sejalan
Kita kan terus perjuangkan
Cinta ini abadi selamanya...


~Justin Bieber P.O.V~


Aku mendengus kesal lantas kugunakan sebuah bantal untuk menutupi kedua telingaku. Tetap saja itu tidak cukup untuk meredam suara ayahku yg terus mengoceh. Akhirnya aku pun duduk diatas ranjangku dan kupilih untuk mendengarnya. Semua kalimatnya tentang YN. Belum lagi tambahan dari ibuku. Mereka benar-benar mengecamku untuk bisa berhubungan dengan YN lagi. Tapi itu tidak bisa menghentikanku. Aku sangat yakin bahwa perbedaan antara aku dan YN bukan untuk dihindari. Tapi untuk dilebur agar bisa menjadi satu. Bukankah Tuhan menempatkan tiap orang-orang disekitarku atas suatu tujuan? Tidak mungkin Tuhan mempertemukanku dengan YN agar dihadapkan pada perpisahan yg menyedihkan. Yg jelas-jelas bukan keinginanku. Aku yakin Tuhan memiliki tujuan tertentu. Dan aku akan terus memperjuangankan YN sampai kami mencapai tujuan Tuhan yg sebenarnya.

Hari Minggu, seperti biasa, aku menjalankan ibadahku. Kali ini bersama ayah dan ibuku bersama-sama ke Gereja. Dan ketika turun dari mobil, kami bertiga berhenti ketika melihat YN sekeluarga juga turun dari mobil yg mereka parkirkan didepan Masjid yg letaknya hanya terpisah tiga bangunan dari Gereja. Sesaat kami saling menatap. Namun tak dibiarkan berlama-lama karna orang tuaku dan orang tua YN langsung menarik tubuh kami masing-masing memasuki tempat ibadah kami. Selang beberapa lama, kami sama-sama selesai dengan urusan kami dan kembali bertemu ketika keluar. Kesempatanku untuk bisa menemui YN pupus begitu saja ketika kudapati ia langsung dibawa masuk oleh kedua orang tuanya.

Malam ini, aku tidak bisa tidur. Aku memikirkan YN. Rasanya lelah terus-terusan menunggu dan mengharapkan yg tak pasti. Orang tuaku akan terus mengecam. Begitu pula orang tua YN. Kami tetap akan terus seperti ini jika tidak melakukan perlawanan. Maka kuputuskan malam ini untuk akhiri semua ketersiksaan ini. Aku meraih tas ranselku kemudian kumasukan semua barang-barangku kedalamnya. Setelah dirasa cukup, kuraih jaketku kemudian menyelinap keluar melompat jendela kamarku. Aku bertekad akan membawa YN pergi. Aku tidak peduli apapun konsekuensi. Aku berharap, dengan begini mereka akan melihat kesungguhanku. Karna aku akan melakukan apapun agar terus bisa bersama YN.

Tibalah aku dijendela kamar YN. Kugunakan tangga kayu untuk mencapainya. Lalu kuketuk-ketuk pelan sampai akhirnya YN membukanya.

"Justin? Apa yg kau lakukan disini?" tanyanya terkejut.

"kita tidak bisa seperti ini terus, YN! Aku lelah tiap hari harus melawan rasa dimana aku ingin sekali bertemu denganmu dan berbicara denganmu seperti dulu. Aku mohon, ikut aku dan kita akhiri ini semua dengan cara kita sendiri." pintaku memohon.

"kau gila, Justin? Aku tidak bisa! Aku tidak mau melawan peringatan orang tuaku." elaknya.

"aku juga. Aku sudah sangat terpaksa melakukan ini. Kumohon, YN! Jika kau mencintaiku, ikutlah denganku." aku menatapnya dengan tatapan memohon. Kutunjukan padanya sebuah ketulusan. Dan ia pun terdiam beberapa saat lamanya. Namun pada akhirnya, aku tersenyum lega karna kulihat YN mengemasi barang-barangnya. Setelah itu ia menuruni anak tangga kayu ini dengan aku dibawahnya. Barulah kami mengendap-endap keluar dari halaman rumah.

"YN, kau mau kemana?" seru suara ibunya YN yg melihat kami dari jendela kamar YN yg masih terbuka lebar. "Abiii, YN mau melarikan diri!!!" pekiknya. Selang beberapa lama, ayahnya YN keluar dari rumah dan melihat kami.

"gawat. Ayo lari, YN!" seruku pada YN kemudian mencoba meraih tangannya. Namun YN menepis tanganku. Shit! Disaat seperti inipun aku masih belum bisa menyentuhnya.

"maafkan YN, umi, abi!" gumam YN kemudian memberiku kode untuk berlari. Kami pun berlari bersama-sama dengan ayahnya YN yg masih terus mengejar-ngejar kami.

"ayo lebih cepat lagi, YN!" desakku yg sudah berlari didepan YN.

"aku lelah, Justin!" lirih YN kemudian berhenti berlari.

"raih tanganku." ujarku kemudian mengulurkan tanganku. Kulihat YN ragu untuk menyambutnya. "kumohon percayalah padaku. Aku janji akan menghalalkanmu. Apapun yg terjadi, aku tetap akan menikahimu." ucapku membujuk. Berhasil, YN mau menyambut uluran tanganku dan kami kembali berlari. Ini pertama kalinya aku bisa mengenggam tangannya dengan sangat erat. Dan aku bersumpah, aku tidak akan melepaskannya.


A Month Later.....


Sebulan berlalu sudah. Kupikir, ini masih cukup dikatakan baik-baik saja antara aku dan YN. Rumah tangga seumur jagung kami tidak didera masalah apapun. Aku sangat mencintainya meskipun tiap hari kulihat ia beribadah dengan cara yg berbeda denganku. Tapi itu bukanlah masalah. Kami sudah berkomitmen untuk teguh pada Agama kami masing-masing. Aku menghargai YN dan ia menghargaiku sebagaimana kini aku adalah suaminya. Pernikahan yg terbilang sulit. Aku beberapa kali harus meyakinkan orang kantor keagamaan agar bisa meresmikan kami. Bahkan sampai beberapa kami diusir. Tapi aku tidak menyerah. Aku bisa memperjuangankan YN untuk membawanya keluar dari rumah orang tuanya dan kini aku hanya sedang berhadapan dengan orang yg tidak ada hubungan darah apapun dengan YN. Akan kubuktikan bahwa aku sungguh-sungguh. Melihat perjuanganku, akhirnya orang itu luluh juga. Ia mau meresmikan hubungan kami berdua berdasarkan hukum. YN sah menjadi istriku.

"Justin, mau sampai kapan kita seperti ini terus?" tanya YN lirih. Aku yg baru saja membaringkan tubuhku diranjang lantas segera terduduk dan menatapnya.

"ada apa, YN?" tanyaku tak mengerti.

"jika kau masih dirumah saja, maka kita tidak akan makan apa-apa untuk besok." jawabnya yg barulah aku mengerti arah pembicaraan ini.

Aku berjalan menghampiri YN lantas kukecup keningnya. "baiklah. Aku akan berusaha cari pekerjaan. Kau tunggu disini, yah!" ucapku kemudian meraih jaketku dan berjalan keluar rumah sederhana tempat tinggalku dan YN. Sudah selama sebulan aku membangun rumah tangga bersamanya. Dan selama ini, kami hanya hidup dari uang tabunganku. Kini uang tabunganku makin menipis dan aku harus kembali mencari pekerjaan. Sebelumnya aku pernah mencoba, namun ternyata mencari pekerjaan itu tidak semudah membalikan telapak tangan.

Malam harinya, aku kembali kerumah setelah tidak mendapatkan hasil apa-apa. Aku pasti akan mengecewakan YN lagi. Tapi aku bisa apa? Hanya berharap ia mau mengerti dan jauh lebih sabar. "maafkan aku." akhirnya hanya segelintir kalimat itu yg bisa kuucapkan. Kulihat ada air mata yg menetes melalui sudut mata YN, tapi bibirnya menyungging sebuah senyum. Kemudian ia berlutut didepanku dan melepaskan sepatu yg masih kukenakan.

"tidak apa-apa." ucap YN sambil terus melepaskan tali sepatuku. Tuhan, betapa beruntungnya aku memilikinya. Aku tau ia kecewa tapi ia tidak menunjukan itu langsung padaku hanya karna ingin menjaga perasaanku. Aku tau ia tersiksa selama ini hidup denganku dalam keadaan serba kekurangan. Bahkan pernah kami hanya makan satu kali dalam sehari. Itupun dengan menu seadanya. Tapi ia tidak pernah mengeluh dan marah padaku. Yg aku tau, tiap kali selesai sholat dan kulihat ia berdoa, wajahnya sembab seperti habis menangis. Aku sudah membawanya dalam ketersiksaan batin. Entah sampai kapan ini berakhir. Setelah resmi menikah, kupikir kami akan tiba dipuncak kebahagiaan yg sesungguhnya. Tapi ternyata aku salah. Ini justru awal dari penderitaan YN. Dan semua itu adalah sebabku. Aku begitu terobsesi untuk memilikinya secara utuh tanpa berpikir sampai ketitik ini.

"kau kenapa membawaku kesini, Justin?" tanya YN ketika kami tiba didepan sebuah Masjid, tempat biasa YN beribadah.

"kau lupa yah? Kan sudah mau masuk waktu sholat Dzuhur? Sana kau ambil air Wudhu dan aku akan menunggumu ditempat biasa." jawabku.

YN tersenyum manis. "aku rasa Allah sudah memberikan jodoh yg tepat untukku. Meski keyakinan kita tidak sama, kau tetap bisa menjadi Imam bagiku. Terima kasih yah, Justin." ucapnya memuji.

Aku mengulurkan tanganku dan kubelai wajahnya dengan lembut. "itulah gunanya seorang suami. Kau percaya kan bahwa aku sangat mencintaimu?"

YN mengangguk kuat. "aku percaya. Karna aku juga mencintaimu karna Allah, Tuhan-ku."

"dan aku juga mencintaimu karna Jesus, Tuhan-ku." balasku. YN tersenyum lalu berjalan memasuki Masjid. Sementara aku memperhatikannya. Dari semula ia mengambil air Wudhu lalu memakai mukena dan mulai melakukan gerakan sholat. Air mataku pun menetes melihat itu semua. Karna aku sadar, tiap awalan pasti ada akhiran. Dan mungkin akhiran itu ada disaat ini.


~Author P.O.V~


YN melipat lagi mukena yg baru saja ia kenakan. Setelah itu ia letakan dengan rapi dirak. Kemudian dengan wajah ceria, ia berjalan keluar Masjid untuk menemui suami yg sudah menunggunya dikursi biasa. Tapi ia pun tertegun heran mendapati kursi itu kosong. Justin tidak ada disana. Pandangan YN kini menjuru keberbagai arah untuk menemukan sosok suaminya. Namun Justin tidak ada dimana-mana.

"Justiiiinnn?" seru YN memanggil-manggil nama suaminya. "Justiiiinnn?" serunya lagi dan masih tidak mendapatkan balasan. Langkahnya kini membawa ia menuju sebuah Gereja yg terpisah tiga bangunan dari Masjid. Pintu Gereja yg terbuka lebar dapat memudahkan YN melihat kedalam sana tanpa memasukinya. Ia tersenyum tenang melihat Justin tengah berlutut didepan sebuah mimbar kecil disana untuk melantunkan doa-nya. Maka itu YN memilih berdiri tak jauh didepan pintu Gereja dan menunggu sampai Justin selesai dengan ibadahnya. Sekiranya lima belas menitan menunggu, Justin pun keluar lalu menemui YN. Wajahnya terlihat murung dan YN menyadari itu.

"ada apa, Justin?" tanyanya lembut.

Justin menarik nafas panjang kemudian memaksa tersenyum. "YN, kau bahagia hidup denganku?"

"kenapa bertanya seperti itu? Tentu saja aku bahagia." jawabnya mantap.

"meskipun kita berbeda dan hidup kita berdua selalu susah?" tanya Justin lagi yg makin membuat YN bergeming heran.

"tentu." YN masih mampu menjawab meski tidak mengerti.

Justin tersenyum lantas memeluk erat tubuh YN. Kemudian ia menangis disana. Tak lama, pandangannya tertuju pada dua orang yg sedang berjalan menghampiri mereka. Justin pun mengerti. Dengan melihat kedatangan dua orang itu, maka ini sudah saatnya. Justin melepaskan pelukannya lalu mengecup kening YN beberapa saat. "aku mencintaimu, YN! Tapi kebahagiaanmu tidak terletak padaku. Aku menyerahkanmu kembali pada mereka." Justin melirikan ekor matanya pada dua orang tadi. Sementara itu YN ikut menoleh dan terkejut melihat kedua orang tuanya sudah berada dibelakangnya.


Didalam hati ini hanya satu nama
Yg ada ditulus hati kuingini
Setiaan yg indah takkan tertandingi
Hanyalah dirimu satu peri cintaku

Benteng begitu tinggi
Sulit untuk kugapai...

Aku untuk kamu
Kamu untuk aku
Namun semua apa mungkin?
Iman kita yg berbeda

Tuhan memang satu
Kita yg tak sama
Haruskah aku lantas pergi?
Meski cinta takkan bisa pergi...



"ayo pulang bersama kami, YN!" ujar ayahnya kemudian menarik paksa tubuh YN.

"aku tidak mau, abi! Aku sudah menikah dengan Justin dan hanya akan pulang kerumah kami." elak YN.

"Justin sudah menyerahkanmu kepada kami! Justru ia sendiri yg menyuruh kami datang menjemputmu." ujar ibunya. YN tersentak kaget mendengar itu. Ia tidak percaya bahwa Justin yg menyuruh kedua orang tuanya datang.

"benar begitu, Justin?" tanya YN tak percaya menatap dalam kemanik mata suaminya yg sudah berair.

"kembalilah bersama mereka. Tempatmu yg seharusnya." jawab Justin lantas berbalik badan kemudian berlalu pergi.

YN masih terus berontak dari cengkraman kedua orang tuanya. Ia ingin mengejar Justin dan ikut bersamanya. "Justiiiinn!!! Justiiiinn, jangan pergi!!!" pekik YN. Justin menghentikan sesaat langkahnya tanpa menoleh. Ia khawatir ini akan semakin berat untuknya. Ia pun meneruskan lagi langkahnya. "Justiiiinn, kau bilang kau mencintaiku dan tidak akan melepaskanku! Kau bilang akan selalu berjuang untuk kita! Bagaimana tentang tebing tinggi yg kau bilang adalah jalan kita untuk bersama. Aku masih terus diujung jalan itu, Justin! Karna aku percaya padamu. Demi Allah, aku mencintaimu dan bagaimanapun hidup kita, aku bahagia asal itu bersamamu!" seru YN yg sudah tidak lagi mampu menahan air matanya.

Justin mendengar semuanya. Namun ia hanya bisa menangis dan terus melangkah menjauh. Makin lama langkahnya makin cepat dan cepat hingga akhirnya ia pun berlari. "Justiiiinnnn!!!" pekik YN terus memanggil-manggilnya. Sementara itu, Justin sudah semakin jauh dan akhirnya sosoknya hilang dimakan jarak. YN pun kembali menangis. Kini tidak ada pemberontakan lagi saat tubuhnya dipaksa masuk kedalam mobil oleh orang tuanya. Mereka pun terpisah.

Justin berdiri diatas kedua kakinya. Keseimbangannya hampir tergoyahkan. Tapi ia tetap bertahan. Lantas ia pun kembali meneruskan perjalanan. Tidak ada yg tau kemana perginya Justin kini. Yg pasti, YN dan Justin benar-benar terpisahkan. Perbedaan memang bukan tebing diantara mereka. Perbedaan adalah jalan bagi mereka untuk bersama. Tapi bukan disini. Bukan ditempat ini. Melainkan ditempat lain yg jauh lebih indah. Ditempat yg akan mempertemukan mereka lagi didalam satu hal. Yaitu persamaan!

Ya Allah, Engkau yg paling mengetahui atas kebimbangan ini, tabahkanlah aku, Ya Allah! Agar selalu senantiasa ada dijalan-Mu. Meski kegundahan tiap kali menggangguku dan mengusik pendirianku, namun sadarkanlah aku kembali agar selalu mengingat-Mu. Ya Allah, Wahai Engkau penguasa hati. Tetapkanlah aku pada orang pilihan-Mu yg sudah Engkau satukan atas pernikahan. Ia berbeda. Ia tidak menyebut-Mu. Namun Engkau-lah yg paling tau bahwa pria itu yg membawaku memasuki tempat ini untuk menepati panggilan-Mu. Pria yg berbeda itu yg mengarahkanku untuk selalu mengingat-Mu. Kami tidak sama, tapi kami saling mencintai. Atas alasan Tuhan kami masing-masing yg tidak sama. Aku mohon, biarkan pria diluar sana. Yg tidak pernah masuk kedalam sini namun selalu mengingatkanku untuk datang pada-Mu, biarkan ia selamanya disisiku. Dengan melewati tiap badai yg sudah Kau siapkan untuk makin memperkokoh kami. Sampaikanlah kami dipuncak tertinggi untuk mengagungkan-Mu meski cara kami berbeda. Letakan kami ditempat tertinggi. Limpahkan pada kami taburan kesucian cinta kami. Kuatkan kami dan kokohkan pernikahan kami. Karna Kau yg tau, kuatnya cinta ini untuknya!

Bapa kami yg ada di surga. Kau-lah yg paling tau isi hatiku. Yg sesungguhnya terkendali atas Kuasa-Mu. Kau juga yg paling tau arti air mata ini. Sebuah rasa takut. Takut kehilangan seseorang diluar sana. Yg Kau tau, ia wanita yg kucintai dengan cara yg berbeda ketika menyebutkan nama-Mu. Kau yg paling tau tentang perbedaan diantara kami. Sebagimana adanya tebing pemisah yg membentengi kami. Dengan semua itu, semua keyakinanku akan cinta-Mu, kami melewati itu dan mengikatkan diri kami dalam pernikahan. Bahkan masih Kau yg paling tau tentang pernikahan itu dan artinya untuk kami. Tapi kali ini, Tuhan! Aku bukan meminta agar Kau terus memperkokohkan kami. Aku hanya ingin ia bahagia. Bahagia jauh dari pernikahan ini. Namun pertemukanlah kami kembali. Ditempat yg sudah kami percaya Kau sediakan begitu istimewa. Sebagaimana Kau yg paling tau, kuatnya caraku mencintainya!

Tuhan yg kami sebut dengan berbagai nama....
Tuhan yg kami sembah dengan berbagai cara....
Tolong jauhkan kami dari percobaan!

Amin, Ya Rabbal Alamin!

Hallelujah, Amin!
 
 you know who
THE END

Tidak ada komentar: